Showing posts with label Sistem Informasi. Show all posts
Showing posts with label Sistem Informasi. Show all posts

Sunday, September 23, 2007

Kebijaksanaan Pengembangan Wilayah Di Masa Yang Akan Datang Dan Implikasinya Terhadap Kebutuhan Analisis Dengan Memanfaatkan Sistem Informasi Geografi

Oleh :
Kasru Susilo


Abstrak
Tulisan ini memberikan gambaran tentang konsep pengembangan wilayah, arah dan startegi pengembangan wilayah serta prospek sistem informasi geografis dalam pengembangan wilayah dalam era otonomi daerah. Dalam tulisan ini pengembangan wilayah diartikan dengan upaya pemberdayaan manusia atau stake holders dengan pendekatan sistem. Membangun sistem berarti menumbuhkan sikap taat asas dan taat aturan, bukan sekedar mewujudkan produk. Hal ini berarti membina dan menumbuhkan etika untuk menggapai hasil, bukan asal mencapai hasil, apalagi menghalalkan segala cara. Dalam konteks ini peran informasi yang berreferensi geografis yang terstruktur dan mudah didapat menjadi penting. Namun pada akhirnya pengembangan sistem informasi geografis akan sangat bergantung pada kesiapan kita sendiri, khususnya profesional yang bergerak dalam dunia sistem informasi.



1. Pendahuluan

Pada hakekatnya pengembangan (development) merupakan upaya untuk memberi nilai tambah dari apa yang dimiliki untuk meningkatkan kualitas hidup. Menurut MT Zen dalam buku Tiga Pilar Pengembangan Wilayah (1999) pengembangan lebih merupakan motivasi dan pengetahuan daripada masalah kekayaan. Tetapi bukan berarti bahwa kekayaan itu tidak relevan. Pengembangan juga merupakan produk belajar, bukan hasil produksi; belajar memanfaatkan kemampuan yang dimiliki bersandar pada lingkungan sekitar untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pada dasarnya proses pengembangan itu juga merupakan proses belajar (learning process). Hasil yang diperoleh dari proses tersebut, yaitu kualitas hidup meningkat, akan dipengaruhi oleh instrument yang digunakan.

Mengacu pada filosofi dasar tersebut maka pengembangan wilayah merupakan upaya memberdayakan stake holders (masyarakat, Pemerintah, Pengusaha) di suatu wilayah, terutama dalam memanfaatkan sumberdaya alam dan lingkungan di wilayah tersebut dengan instrument yang dimiliki atau dikuasai, yaitu teknologi. Dengan lebih tegas MT Zen menyebutkan bahwa pengembangan wilayah merupakan upaya mengawinkan secara harmonis sumberdaya alam, manusia dan teknologi, dengan memperhitungkan daya tampung lingkungan itu sendiri.

Dalam konteks ini sistem informasi merupakan instrument atau alat untuk memberdayakan rakyat. Sebagai instrument, sistem informasi harus mempermudah dan memperlancar proses pemberdayaan rakyat, bukan menghambat atau malahan memberi masalah. Dengan demikian Sistem Informasi Geografi (SIG) yang merupakan tatanan dalam mem-provide data, mengelola, memproses dan menyajikan informasi, harus mudah dan praktis (user friendly) digunakan. Pembangunan sistem harus diorientasikan pada proses pemberdayaan rakyat tersebut, yaitu dengan antara lain memperlancar dan memperpendek birokrasi, bukan membangun sistem for the sake of sistem them self, seperti yang banyak kita jumpai. Karena pada hakekatnya membangun sistem berarti menumbuhkan sikap taat asas dan taat aturan, bukan sekedar mewujudkan produk. Hal ini berarti membina dan menumbuhkan etika untuk menggapai hasil, bukan asal mencapai hasil, apalagi menghalalkan segala cara, yang akan lebih cenderung machiaveli’s.

Untuk itu, membangun Sistem Informasi Geografi berarti membangun 4 (empat) aspek utama secara totalitas, seperti yang disebutkan oleh Dangermond, J (Fundamentals of GIS, 1983), yaitu (1) aspek data, (2) aspek SDM, (3) aspek perangkat atau software dan hardware, dan (4) aspek institusi yang diwujudkan dalam bentuk kelembagaan dan tatalaksananya. Empat aspek tersebut menyatu dan tidak bisa dipisahkan. SIG tidak bisa hanya terdiri dari data dan SDM atau data dan alat atau perangkat saja, jadi harus mencakup semua aspek di atas. Apabila dicermati berdasar aspek tersebut, maka prospek SIG dalam pengembangan wilayah sangatlah menantang.


2. Konsep Pengembangan Wilayah

Konsep pengembangan wilayah dimaksudkan untuk memperkecil kesenjangan pertumbuhan dan ketimpangan kesejahteraan antar wilayah. Untuk itu pengertian wilayah menjadi penting dalam pembahasan ini. Menurut PP Nomor 47 Tahun 1997 wilayah adalah ruang yang merupakan kesatuan geografis beserta segenap unsur terkait padanya yang batas dan sistemnya ditentukan berdasarkan aspek administratif dan atau aspek fungsional.

Jadi pengembangan wilayah merupakan upaya memberdayakan stake holders di suatu wilayah dalam memanfaatkan sumberdya alam dengan teknologi untuk memberi nilai tambah atas apa yang dimiliki oleh wilayah administratif atau wilayah fungsional dalam rangka meningkatkan kualitas hidup rakyat di wilayah tersebut. Dengan demikian dalam jangka panjangnya pengembangan wilayah mempunyai target untuk pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Cara mencapainya bersandar pada kemampuan SDM dalam memanfaatkan lingkungan sekitar dan daya tampungnya serta kemampuan memanfaatkan instrument yang ada. Dengan target tersebut dirancang skenario-skenario tertentu agar kekurangan-kekurangan yang dihadapi dapat diupayakan melalui pemanfaatan resources. Apabila konsep tersebut diterapkan di Indonesia, muncul persoalan berupa kekurangan teknologi untuk mengolah resources yang melimpah.

Konsep Marshal Plan yang berhasil menuntun pembangunan Eropa setelah PD II telah mendorong banyak negara berkembang untuk berkiblat dan menerapkan konsep tersebut. Padahal kenyataan menunjukkan bahwa konsep ini membawa kegagalan dalam menciptakan pembangunan secara merata antar daerah. Secara geografis misalnya beberapa pusat pertumbuhan maju secara dramatis, sementara beberapa pusat pertumbuhan lainnya masih jauh tertinggal atau jauh dari kemampuan berkembang.

Kajian pengembangan wilayah di Indonesia selama ini selalu didekati dari aspek sektoral dan aspek spasial. Pada kajian aspek sektoral lebih menyatakan ukuran dari aktifitas masyarakat suatu wilayah dalam mengelola sumberdaya alam yang dimilikinya. Sementara itu, kajian aspek spasial (keruangan) lebih menunjukkan arah dari kegiatan sektoral atau dimana lokasi serta dimana sebaiknya lokasi kegiatan sektoral tersebut.
Pada aspek inilah SIG mempunyai peran yang cukup strategis, karena SIG mampu menyajikan aspek spasial (keruangan) dari fenomena atau fakta yang dikaji.

Pendekatan yang mengacu pada aspek sektoral dan spasial tersebut mendorong lahirnya konsep pengembanan wilayah yang harus mampu meningkatkan efisiensi penggunaan ruang sesuai daya dukung, mampu memberi kesempatan kepada sektor untuk berkembang tanpa konflik dan mampu meningkatkan kesejahteraan secara merata. Konsep tersebut digolongkan dalam konsep pengembangan wilayah yang didasarkan pada penataan ruang.

Dalam kaitan itu ada tiga kelompok konsep pengembangan wilayah yaitu konsep pusat pertumbuhan, konsep integrasi fungsional dan konsep pendekatan desentralisasi (Alkadri et all, Manajemen Teknologi Untuk Pengembangan Wilayah, 1999). Konsep pusat pertumbuhan menekankan pada perlunya melakukan investasi secara besar-besaran pada suatu pusat pertumbuhan atau wilayah/kota yang telah mempunyai infrastruktur yang baik. Pengembangan wilayah di sekitar pusat pertumbuhan diharapkan melalui proses tetesan ke bawah (trickle down effect). Penerapan konsep ini di Indonesia telah melahirkan adanya 111 kawasan andalan dalam RTRWN.

Konsep integrasi fungsional mengutamakan adanya integrasi yang diciptakan secara sengaja diantara berbagai pusat pertumbuhan karena adanya fungsi yang komplementer. Konsep ini menempatkan suatu kota atau wilayah mempunyai hirarki sebagai pusat pelayanan relatif terhadap kota atau wilayah yang lain. Sedangkan konsep desentralisasi dimaksudkan untuk mencegah tidak terjadinya aliran keluar dari sumberdana dan sumberdaya manusia.

Pendekatan tersebut mempunyai berbagai kelemahan. Dari kondisi ini muncullah beberapa konsep untuk menanggapi kelemahan tersebut. Konsep tersebut antara lain people center approach yang menekankan pada pembangunan sumberdaya manusia, natural resources-based development yang menekankan sumberdaya alam sebagai modal pembangunan, serta technology based development yang melihat teknologi sebagai kunci dari keberhasilan pembangunan wilayah. Kenyataan menunjukkan bahwa aplikasi konsep tersebut kurang berhasil dalam membawa kesejahteraan rakyat.

Fenomena persaingan antar wilayah, tren perdagangan global yang sering memaksa penerapan sistem outsourcing, kemajuan teknologi yang telah merubah dunia menjadi lebih dinamis, perubahan mendasar dalam sistem kemasyarakatan seperti demokratisasi, otonomi, keterbukaan dan meningkatnya kreatifitas masyarakat telah mendorong perubahan paradigma dalam pengembangan wilayah. Dengan semakin kompleksnya masalah tersebut dapat dibayangkan akan sangat sulit untuk mengelola pembangunan secara terpusat, seperti pada konsep-konsep yang dijelaskan di atas. Pilihan yang tepat adalah memberikan kewenangan yang lebih besar kepada daerah untuk mengelola pembangunan di wilayahnya sendiri. Pembangunan ekonomi yang hanya mengejar pertumbuhan tinggi dengan mengandalkan keunggulan komparatif berupa kekayaan alam berlimpah, upah murah atau yang dikenal dengan bubble economics, sudah usang karena terbukti tak tahan terhadap gelombang krisis. Walaupun teori keunggulan komparatif tersebut telah bermetamorfose dari hanya memperhitungkan faktor produksi menjadi berkembangnya kebijaksanaan pemerintah dalam bidang fiskal dan moneter, ternyata daya saing tidak lagi terletak pada faktor tersebut (Alkadri etal, 1999). Kenyataan menunjukkan bahwa daya saing dapat pula diperoleh dari kemampuan untuk melakukan perbaikan dan inovasi secara menerus.

Menurut Porter (1990) dalam Tiga Pilar pengembangan Wilayah (1999) keunggulan komparatif telah dikalahkan oleh kemajuan teknologi. Namun demikian, setiap wilayah masih mempunyai faktor keunggulan khusus yang bukan didasarkan pada biaya produksi yang murah saja, tetapi lebih dari itu, yakni adanya inovasi untuk pembaruan. Suatu wilayah dapat meraih keunggulan daya saing melalui empat hal yaitu keunggulan faktor produksi, keunggulan inovasi, kesejahteraan masyarakat, dan besarnya investasi.

Apabila dicermati maka paradigma pengembangan wilayah telah bergeser pada upaya yang mengandalkan tiga pilar yaitu sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan teknologi. Ketiga pilar tersebut merupakan elemen internal wilayah yang saling terkait dan berinteraksi membentuk satu sistem. Hasil interaksi elemen tersebut mencerminkan kinerja dari suatu wilayah. Kinerja tersebut akan berbeda dengan kinerja wilayah lainnya, sehingga mendorong terciptanya spesialisasi spesifik wilayah. Dengan demikian akan terjadi persaingan antar wilayah untuk menjadi pusat spatial network dari wilayah-wilayah lain secara nasional. Namun pendekatan ini mempunyai kelemahan yang antara lain apabila salah didalam mengelola spatial network tadi tidak mustahil menjadi awal dari proses disintegrasi. Untuk itu harus diterapkan konsep pareto pertumbuhan yang bisa mengendalikan keseimbangan pertumbuhan dan dikelola oleh Pemerintah Pusat. Konsep pareto ini diharapkan mampu memberikan keserasian pertumbuhan antar wilayah dengan penerapan insentif-insentif kepada wilayah yang kurang berkembang.

3. Visi dan Misi Pengembangan
Wilayah

Sampai sekarang Visi dan misi pengembangan wilayah nampaknya belum baku. Sebagai gambaran dapat disampaikan visi dan misi Departemen Permukiman dan Pengembangan Wilayah. Visi tersebut adalah terwujudnya keselarasan pembangunan dan keserasian pertumbuhan wilayah regional, perkotaan , dan perdesaan yang diselenggarakan secara holistik, berkelanjutan , berwawasan lingkungan dan memberdayakan masyarakat. Termasuk didalamnya Permukiman untuk semua orang, yang layak huni, terjangkau, berjati diri dan mendorong produktivitas warganya.
Sedangkan misinya adalah :
• Penyelenggaraan PENGATURAN, PEMBINAAN DAN PENGAWASAN dalam rangka perwujudan manfaat pembangunan permukiman dan pengembangan wilayah bagi kesejahteraan masyarakat
• Peningkatan kemampuan DAERAH yang lebih profesional, mandiri dan akuntabel dalam pembangunan
• Pemberdayaan MASYARAKAT dalam pembangunan yang diselenggarakan secara transparan
• Penciptaan iklim yang konduktif bagi DUNIA USAHA berperan aktif dalam pembangunan
• Pengembangan sinergi antar PENYELENGGARA PEMBANGUNAN untuk mencapai daya guna dan hasil guna yang optimal


4. Globalisasi dan Otonomi Daerah

Perkembangan teknologi informasi sangat pesat dan menyebar hampir tanpa kendali. Peristiwa yang terjadi di belahan bumi yang berjarak ribuan kilometer dapat disaksikan hanya dalam selisih detik atau bahkan secara bersamaan di sini, seperti yang belum lama kita saksikan dengan peluncuran Windows 2000, Khutbah Idul Adha di Mekah, dan bahkan komunikasi dengan Astronot di luar angkasa. Begitu bebasnya masyarakat memperoleh informasi. Kondisi ini suka atau tidak suka akan mempengaruhi pola berfikir masyarakat kita. Pada gilirannya akan terjadi perubahan kultur masyarakat kita, yang akan cenderung menjadi kultur masyarakat global. Masyarakat global adalah masyarakat yang bukan berbatas pada wilayah fisik administrasi atau wilayah fungsional, tetapi masyarakat maya atau masyarakat yang mendunia.

Kegiatan, perilaku dan kebutuhannya tidak hanya didasarkan pada komoditas lokal yang tersedia di kanan-kirinya, tetapi sudah mengabaikan dimensi jarak fisik. Kondisi ini bisa dicontohkan dengan begitu mudahnya mendapatkan sebungkus kopi dari Negeri Brasil yang dicari dari Internet daripada di swalayan di sekitar tempat tinggalnya. Begitu gampangnya orang bertransaksi atau membayar barang melalui e-commerce atau mendapatkan buku dari pengarang aslinya di Amerika melalui internet daripada mencari di Toko Buku di kota tempat tinggalnya yang terkadang masih terhalang oleh kemacetan lalu lintas. Kenyatan-kenyataan tersebut sudah bukan mimpi lagi, tetapi telah bergulir di masyarakat kita.

Perubahan perilaku tersebut tidak hanya akan mempengaruhi perubahan pola kebutuhan saja, tetapi masyarakat akan bisa berkiblat pada produk luar negeri seperti mencari tenaga ahli luar negeri yang dianggap lebih baik, memakai barang-barang luar negeri yang dianggap lebih murah, lebih berkualitas dan sebagainya. Akibat lebih lanjut dari sikap tersebut akan merubah visi, misi dan juga pola pengembangan wilayah. Kondisi ini akan semakin dipercepat oleh paradigma otonomi daerah yang mendorong keleluasaan stake holders, yang terdiri dari masyarakat, pengusaha dan Pemerintah Daerah, dalam mengembangkan wilayah masing-masing.

Apabila tidak disikapi dengan hati-hati, maka kondisi tersebut bisa mendorong kearah perkembangan wilayah yang kurang sehat. Ujung akhir dari peristiwa ini adalah disintegrasi bangsa. Untuk itulah kelancaran arus informasi dari dan antar daerah dan juga dengan Pusat sangat penting maknanya untuk membuat policy yang tepat.

Dalam kaitan tersebut Kimio Uno (UNCRD, 1996) berpendapat bahwa pembangunan sistem data base, khususnya untuk kota metropolitan, menjadi sangat penting. Sistem data base yang dimaksud adalah yang bisa dikomunikasikan melalui jaringan komputer atau internet. Dengan demikian sinergi dengan kota-kota atau wilayah-wilayah lainnya akan terwujud. Dalam pengembangan sistem data base tersebut, Uno mengusulkan peran Universitas di daerah-daerah harus ditingkatkan, karena pada lembaga pendidikan tersebut tenaga terdidik, khususnya dalam bidang sistem informasi, banyak didapatkan.

Mengingat begitu luas wilayah Indonesia, maka pengembangan sistem data base atau sistem informasi yang berbasis telekomunikasi atau yang sering disebut dengan sistem informasi online atau sistem informasi dinamis akan menemui beberapa kendala yang cukup berarti. Kendala tersebut antara lain didasarkan pada kenyataan belum lancarnya telekomunikasi, khususnya komunikasi data, di seluruh kota dan kabupaten di Indonesia, walau di seluruh kota dan kabupaten sudah tersedia line telpon. Hal ini tidak hanya masalah bandwidth saja tetapi juga adanya gangguan-gangguan teknis lainnya. Untuk mengatasi hal tersebut, tepat sekali rencana pembangunan prasarana telematika Indonesia, yang kalau saja tidak terhalang krisis ekonomi akan mengarah kepada terwujudnya prasarana informasi berupa (Gambaran Umum Pembangunan Telematika Indonesia, 1996):
a) adi marga kepulauan, yang akan menghubungkan seluruh ibukota propinsi
b) kota multimedia, yang akan dikembangkan di kota-kota besar pusat-pusat kegiatan ekonomi, perdagangan serta sosial, dan
c) pusat akses masyarakat multimedia nusantara, yang merupakan bentuk layanan umum seperti pusat layanan telpon umum pita lebar, network e-library, dan kios multimedia.

Belajar dari itu semua, seharusnya pendekatan pengembangan wilayah di Indonesia harus dilakukan secara holistik, pro-bisnis dan berkelanjutan, agar pengembangan wilayah bisa benar-benar memberdayakan rakyat atau mensejahterakan rakyat. Ini berarti bahwa kebijaksanaan pengembangan wilayah di masa mendatang harus berorientasi atau berpihak pada rakyat, bukan semata berdasar pertimbangan profit atau ekonomis.


5. Kondisi SIG di Indonesia

Apabila dikaji berdasar aspek diatas, maka SIG di Indonesia masih bisa dikelompokkan dalam kategori sedang berkembang. Hal ini bisa dilihat dari kenyataan seperti misalnya keberadaan data, yang katanya banyak sekali tetapi selalu susah dicari saat diperlukan. Ini berarti data geografis di Indonesia masih jauh dari tertata. Disamping itu struktur dan format serta pengelolaan datanya masih sangat beragam. Walau sudah banyak ditemui software dan hardware yang relatif canggih di beberapa perkantoran, tetapi lebih dari 90% masih berasal dari luar. Kita masih dalam kategori pengguna, belum jadi pemasok software dan hardware. SDM kita kebanyakan masih belum mampu membuat atau belum diberi banyak kesempatan untuk membuat software dan hardware sesuai dengan demand Indonesia. Jumlah SDM pun tak sebanding dengan kebutuhan yang seharusnya. Lagi pula dengan jumlah tersebut tak menyebar di wilayah-wilayah otonomi (Henny Liliwati dan M. Dimyati, 1999).

Bukan hanya aspek itu saja, tetapi aturan main pertukaran data antar institusi juga belum duduk, pengelola data dan informasi di institusi satu dengan yang lain masih sering bertabrakan dalam pengadaan dan juga pengelolaan data. Ini berarti deskripsi kerja dalam pengelolaan data secara nasional, khususnya ketentuan tentang siapa mengerjakan apa juga belum duduk dengan baik. Kondisi tersebut masih didukung oleh lambannya pelimpahan kewenangan pada lapisan manajemen menengah ke bawah.

Di sisi lain perkembangan teknologi informasi yang sudah merambah sampai ke rumah tangga dengan e-commerce dan e-education terus berjalan. Dibandingkan dengan negara maju kita masih ketinggalan, khususnya dalam memanfaatkan jaringan komunikasi data untuk aplikasi SIG secara on-line. Bukan hanya dalam bidang tersebut, tetapi dalam bidang aplikasi kita juga masih jauh tertinggal dari kerabat di negeri seberang. Tertinggal pula dalam bidang pemrograman maupun dalam pengembangan permodelannya. Dengan kondisi tersebut, konsekuensinya suka atau tidak suka kita akan segera berhadapan dengan pakar manca negara yang pasti akan bertebaran di wilayah-wilayah kita pada era perdagangan bebas (AFTA 2002). Mereka sebagai tenaga ahli atau profesional yang telah bersertifikat internasional akan menjajakan keahlian dan ketrampilannya dengan murah dan piawai di negeri tercinta ini, tanpa ada aturan yang bisa membatasi karena adanya komitmen internasional tentang pasar bebas.

Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa pengembangan SIG di Indonesia masih berlangsung dominan pada level dijitasi atau konversi data ke format dijital dan penayangan informasi dalam format warna-warni. Perkembangannya masih jauh dari tahap permodelan yang aplikatif, apalagi pada tahap pemanfaatan teknologi informasi secara on-line. Hal ini diperkuat dengan materi bahasan pada Rakornas SIG V (Maret) yang lalu masih bicara metadata, direktori dan sosialisasi Peraturan Pemerintah.

Berbeda dengan perkembangan pemanfaatan SIG di negara maju yang sudah cukup memasyarakat. Di sebagian negara maju sudah memadukan teknologi SIG dengan GPS sehingga dengan mudahnya mereka memanfaatkannya untuk penunjuk jalan pada saat bepergian menggunakan mobil. Dengan teknologi tersebut mereka bisa dengan mudah menghindarkan kemacetan dan dengan mudah pula mencari alternatif rute perjalanan seperti yang mereka inginkan. Walau masih jauh, bukannya tidak mungkin teknologi tersebut diterapkan di Indonesia dalam waktu dekat.


6. Hubungan Pengembangan Wilayah dan Sistem Informasi

Telah disebutkan di atas bahwa pengembangan wilayah merupakan proses pemberdayaan rakyat untuk mencapai kualitas hidup lebih baik. Yang dimaksud pemberdayaan dalam konteks ini adalah pemberdayaan stake holders yang terdiri dari masyarakat, pengusaha dan Pemerintah. Di dalam prosesnya untuk mencapai kesejahteraan, stake holders tersebut akan memanfaatkan sumberdaya alam dengan instrument yang dimiliki. Untuk mencapai harmonisasi maka pemanfaatan sumberdaya alam tersebut harus mempertimbangkan daya dukung lingkungannya.

Dalam proses pemberdayaan di atas diperlukan input. Input tersebut bisa berupa sumberdaya alam dengan seluruh inovasinya. Hasilnya akan merupakan output yang telah merupakan jelmaan dari input yang telah bernilai tambah. Rangkaian Input-Proses dan Output tersebut disebut sistem. Dalam konteks ini yang dimaksud dengan sistem adalah sistem informasi. Gambaran hubungan pengembangan wilayah dan sistem informasi ditunjukkan pada Gambar 1.


7. Prospek SIG dalam Pengembangan Wilayah

Selain wilayahnya sangat luas, Indonesia mempunyai penduduk yang sangat besar. Kondisi ini akan berimplikasi pada besarnya kegiatan penduduk dan luas persebaran kegiatannya. Untuk membangun daerah yang sangat luas dan sangat heterogen seperti Indoensia diperlukan data yang baik dan berakurasi serta mudah dicari pada waktu digunakan.

Uraian di atas menjelaskan bahwa kondisi data di Indonesia, termasuk data geografisnya, belum tertata dengan baik atau belum tersistematisasi dan belum terstruktur dengan benar. Mekanisme pertukaran antar institusi atau kelembagaan dan ketatalaksanaannya juga belum sebaik yang diharapkan. Hal ini antara lain yang menyebabkan terciptanya pameo bahwa data ada dimana-mana tetapi tak ada dimana-mana saat diperlukan. Kondisi ini diperparah oleh kenyataan belum lancarnya teknologi pertukaran data, khususnya data geografis, melalui sistem jaringan atau melalui internet. Padahal paradigma globalisasi mendesak keberadaan dan kelancaran komunikasi data, termasuk data geografis tersebut, melalui internet.

Kualitas dan juga kuantitas SDM yang bergerak atau profesional dalam bidang sistem informasi kurang memadai. Kondisi ini diperparah oleh belum merata penyebarannya di daerah-daerah otonom yang akan menjadi ujung tombak pengembangan wilayah di masa depan. Padahal dalam era otonomi ke depan, jumlah dan kualitas SDM di daerah sangat dituntut keberadaannya.

Selain itu kondisi perangkat yang berupa software dan hardware, walau sudah ada di pasaran, tetapi masih belum bisa dijangkau secara murah dan mudah oleh daerah-daerah. Padahal keberadaan perangkat akan merupakan modal pokok untuk bisa mengoperasikan sistem informasi.

Kelembagaan dan ketatalaksanaan yang mendukung kelancaran bidang sistem informasi juga masih sangat langka. Padahal keberadaannya akan merupakan kunci dari kelancaran pengembangan sistem informasi secara menyeluruh, khususnya dalam pengembangan wilayah di era mendatang.

Melihat kondisi ini maka prospek sistem informasi, khususnya sistem informasi geografi atau lebih khusus lagi SIG on-line dalam pengembangan wilayah, khususnya di Indoensia sangat menantang, kalau tidak boleh dibilang sangat baik. Namun sekali lagi, sebenarnya bicara tentang prospek SIG ini akan sangat tergantung pada kita sendiri, khususnya profesional yang bergerak dalam dunia sistem informasi itu sendiri. Kenyataan tersebut akan bisa menjadi tantangan yang sekaligus merupakan peluang kita bersama untuk mendudukkan dalam konteks yang tepat.

Kajian Penggunaan Secure Microcontroller sebagai Solusi Pengembangan Sistem Embedded yang Aman

Oleh:
Yusdi Saliman


Keamanan sistem informasi umumnya lebih banyak mengarah ke sistem yang melibatkan komputer PC (Personal Computer). Pada kenyataannya, sistem informasi juga melibatkan banyak sistem-sistem lain baik yang lebih besar dan kompleks maupun yang lebih kecil dan sederhana seperti embedded system (sistem embedded). Umumnya dalam desain embedded system, aspek security adalah aspek yang seringkali dilupakan, atau setidaknya bukan prioritas utama. Hal ini bukannya tanpa alasan. Bagaimana pun juga embedded system adalah sistem yang kecil dengan resource dan processing power yang sangat terbatas, sedangkan menambahkan implementasi security (misal kriptografi) berarti memberikan tambahan kebutuhan akan dua hal tersebut, yang akhirnya mungkin berakibat pada sistem yang menjadi semakin kompleks, dan lebih buruk lagi, semakin mahal. Namun demikian, dengan semakin kritikalnya aplikasi-aplikasi yang dialihkan ke embedded system, apalagi semakin banyak embedded system yang terhubung dengan internet, kebutuhan security dalam embedded system semakin terasa.
Ada sejumlah aspek yang membuat embedded system berbeda dari sistem yang “biasa”, dan beberapa masalah yang mungkin muncul juga berbeda sehingga perlu penanganan yang lebih khusus. Secure microcontroller merupakan salah satu solusi yang ditawarkan untuk embedded system security, yaitu mikrokontroler yang program dan datanya terlindungi dengan enkripsi ditambah deteksi terhadap berbagai serangan, serta biasanya juga menawarkan dukungan kriptografi secara hardware kepada programmernya dengan cryptographic engine. Contohnya adalah DS5250 buatan Dallas Semiconductor, sebuah secure microcontroller yang kompatibel dengan Intel 8051, dan keluarga AT90SC buatan Atmel, yaitu yang kompatibel dengan Atmel AVR.

Sistem Informasi Berbasis Multimedia

Oleh :
Arief Setyanto, S.Si., MT.


Abstract
Information Systems is an implementation of computing for serve management board to get a high quality of information. Information systems work to collect data, store them and then processing the data to information. Data can form as text as common data form. The emerging computer technology can give us with variety of data form, not only text. Multimedia data form such as picture, motion picture, sound can also pick as data for our computer as input. The technology is also can serve us to display information as multimedia information that it’s more rich than information formed by text and table. We can process medical data like rontgen photo, map data pick from satelite, sound of the animall etc, then store them into database. Although this is not text we also can queryng the data called image querying. From multimedia databases we can make an information by processing the multimedia data into valuable information.
Keywords : Multimedia, Information system.

a. Sistem Informasi
Sistem Informasi Terdiri dari dua kata yaitu Sistem dan Informasi. Sistem sendiri berarti gabungan dari beberapa sub sistem yang bertujuan untuk mencapai satu tujuan. Informasi berarti sesuatu yang mudah dipahami oleh si penerima. Sistem Informasi memiliki makna sistem yang bertujuan menampilkan informasi. Pada jaman dahulu sebelum sistem komputer ada maka sistem informasi ini telah lebih dahulu ada dan berjalan dengan baik. Adapun komponen komponen yang menyusun sistem informasi dapat dilihat pada gambar dibawah ini :

Komponen/blok masukan merupakan blok sistem informasi yang bertugas menangkap (capturing) terhadap data data dari luar sistem informasi. Blok masukan inilah yang bertugas melakukan konversi data dari yang bentuknya alamiah manjadi data yang dapat diwakili dalam bentuk digital yang kemudian diklasifikasikan ke dalam salah satu tipe data yang tersedia.
Komponen/Blok Teknologi merupakan blok dari sistem informasi yang bertugas melakukan spesifikasi penerapan teknologi yang dapat mendukung sistem informasi dapat berjalan dengan baik. Di dalam blok teknologi ini secara umum akan di bagi menjadi dua bagian yaitu teknologi hardware dan teknologi software. Blok teknologi mendefinisikan teknologi yang dipakai oleh semua blok/komponen lain.
Komponen Kontrol merupakan komponen yang bertugas mendefinisikan bagaimana kontrol terhadap sistem dilakukan sehingga sistem dapat berjalan dengan baik. Dalam blok kontrol ini misalnya didefinisikan bagaimana melindungi data yang ada di database agar selalu sama dengan kenyataan yang dicatat.
Komponen Basis Data merupakan blok yang berisi definisi basis data yang disediakan untuk menyimpan data data yang akan disimpan dalam media penyimpan.
Komponen Keluaran merupakan blok yang bertanggung jawab terhadap bagaimana sebuah keluaran dari sistem informasi disajikan.


b. Multimedia
Multimedia berasal dari dua kata yaitu multi dan media, multi berarti beberapa dan media berarti sarana atau alat. Kata multimedia sendiri sebenarnya sudah ada sebelum komputer seperti saat ini dan lebih banyak di pakai di dunia hiburan seperti pementasan teater multimedia yang sudah ada sejak lama yaitu satu bentuk pementasan teater yang didukung oleh banyak alat bantu seperti pengeras suara, lampu panggung, gambar bergerak pada latar dan sebagainya. Di dunia home electronics juga di kenal televisi digital multimedia yang artinya televisi tersebiut dapat mendukung penggunaan banyak alat seperti menerima masukan dari cd player, game player dan lain sebagainya. Masuk ke dunia komputer yang booming dengan embel embel multimedia ketika produk sound card, produk tv card, produk graphic card masuk sebagai perluasan fungsi komputer pada dekade 90-an. Saat itu komputer menjadi semakin fleksibel penggunaannya tidak hanya untuk melakukan kegiatan komputing seperti pada awal awal kehadiran komputer tetapi memiliki fungsi tambahan untuk memainkan lagu, menerima sinyal televisi, memainkan film dan sebagainya. Produk ini laku di pasaran dan saat ini semua device tambahan tersebut menjadi standar untuk semua produk komputer khususnya Personal Computer. Untuk produk produk server device tambahan tersebut hampir tidak digunakan.

c. Multimedia Databases
Databases multimedia merupakan perluasan kemampuan basis data yang dapat menyimpan data tidak hanya text akan tetapi dapat berupa suara, gambar, animasi maupun data multimedia lainnya. Dukungan sistem basis data yang dapat menyimpan data dalam format multimedia dapat diberikan oleh ORACLE, PostGreSQL, Ms SQL Server dan beberapa produk lainnya. Format yang saat ini di dukung untuk dapat disimpan dengan baik sebagai salah satu nilai dari field database adalah blob, didalam field ini kita dapat menyimpan data berupa gambar. Dukungan ini sudah diberikan oleh Microsoft SQL server sejak versi 6,5 [RUJUKAN] , postGreSQL 7.2 [RUJUKAN]juga mendukung tipe image. Penyimpanan data dengan format multimedia juga biasa dilakukan dengan trik menyimpan alamatnya (path) dalam salah satu field di database. Trik ini biasanya dilakukan oleh programmer untuk meringankan/memperkecil ukuran basis data sehingga kinerja aplikasi menjadi lebih baik. Pada kasus penyimpanan data blob sebenarnya trik yang sama juga dilakukan, hanya saja manajemen penyimpanannya dilakukan sendiri oleh mesin basis data, sehingga dari sisi programmer terlihat bahwa data blob ini tersimpan dalam field yang bertipe blob tersebut.
Permasalahan yang muncul ketika data dalam format multimedia ini disimpan dalam basis data adalah pada saat retrieve/pengambilan data. Apakah mungkin permintaan query dengan input sebuah foto, atau sampel suara atau sampel animasi. Pada kasus seperti ini berbeda dengan query dengan input text dimana dengan mudah searching dilakukan dengan kriteria nilai salah satu field dalam database yang bertipe angka, tanggal, boolean atau text. Hal ini dikarenakan operasi perbandingan terhadap data text, tanggal, boolean atau angka dapat dengan mudah dilakukan. Untuk tipe data konvensional seperti string, numerik, date dan boolean pencarian sudah lama didukung oleh bahasa SQL (Structured Query language) standard yang saat ini dipakai. Berbeda dengan tipe data kompleks yang digunakan untuk menyimpan data multimedia yang belum didukung retrievalnya menggunakan bahasa SQL standard. Untuk itu salah satu bangunan perangkat lunak yang harus disiapkan untuk menerapkan sistem informasi berbasis multimedia adalah mesin database yang dapat mendukung proses ini.
Saat ini ada beberapa metode yang sudah dikembangkan untuk melakukan pencarian data image dan suara. Seperti metode pencarian image menggunakan algoritma wavelet [RUJUKAN ] yang sudah dikembangkan oleh beberapa peneliti. Metode ini juga dapat dikembangkan untuk melakukan retrieval data yang berisi suara [ RUJUKAN ] . Tidak menutup kemungkinan di masa depan metode ini dapat dikembangkan untuk melakukan pencarian data data dengan muatan multimedia yang lain. Pencarian dengan metoda wavelet ini cocok di gunakan untuk melakukan pencarian data yang volume item datanya besar.


d. Informasi Multimedia
Informasi yang berbentuk multimedia merupakan informasi yang disampaikan dengan menggabungkan beberapa elemen informasi. Pada penyajian informasi konvensional, informasi disajikan hanya dengan menggunakan satu media saja misalnya tulisan (text) saja, suara saja atau gambar saja. Salah satu contoh penyajian informasi bukan multimedia adalah ketika ada panggilan kepada seseorang di sebuah stasiun yang diumumkan melalui mikrofon sebagai salah satu contoh penyajian informasi melalui suara. Contoh lain adalah ketika muncul informasi di layar komputer yang berisi daftar mahasiswa yang mendapatkan nilai E, anda akan melihat informasi berbentuk text. Pada beberapa kondisi bentuk informasi seperti ini sudah dianggap cukup. Permasalahannya ketika sebuah sistem informasi dibangun dengan output informasi yang tidak mungkin disajikan hanya menggunakan tulisan saja. Saat itu penyajian informasi harus menggunakan bentuk yang lebih kaya dengan memadukan berbagai media yang tersedia [RUJUKAN].
Marilah kita lihat ketika sebuah sistem informasi diharuskan menunjukan kepada penggunanya tentang dimana letak sebuah buku yang akan di cari di sebuah perpustakaan dengan koleksi judul buku sebanyak 1 juta dengan leyak perpustakaan di 6 lantai dimana pada masing masing lantai ada 14 ruang. Ketika dilakukan pencarian data buku dengan kata kunci “multimedia” ternyata muncul 10 buku dengan judul yang cocok, ketika di pilih salah satu muncul informasi yang berbunyi “buku masih ada di lantai 5”, berbekal informasi ini berapa lama buku yang dimaksud akan ditemukan oleh seorang pengunjung yang baru menjadi anggota perpustakaan?. Coba dibandingkan jika informasi yang disajikan adalah berupa denah ruang pasti anggota perpustakaan baru tadi akan lebih cepat menemukan buku yang dicari.
Gambar ini muncul dengan suara sebagai berikut : “ jika anda mencari buku ini naiklah ke lantai 5 lalu berbelok ke kiri di depan lift, pada lorong pertama silahkan belok kanan dan masuklah ke ruang nomor 12, buku yang anda cari berada di rak nomor 2” text ini juga tertulis di sebelah kanan atas layar komputer penyaji informasi. Inilah gambaran informasi yang disajikan dalam bentuk multimedia. Dengan informasi yang di buat dengan memadukan tulisan, gambar dan suara dipastikan kualitas informasi akan meningkat. Peningkatan kualitas informasi ini dapat kita lihat terutama dari sisi akurasinya.
Ketepatan waktu informasi sampai kepada pengguna informasi juga dapat ditingkatkan. Contoh informasi multimedia yang dapat menjamin bahwa informasi sampai dengan tepat kepada pengguna yang membutuhkan adalah informasi berupa text yang di sampaikan menggunakan media suara (berupa alert) dan text yang berupa notifikasi short message service (sms).
Pada pengertian multimedia konvensional yang hanya menggunakan alat alat multimedia berupa speaker dan layar komputer yang terhubung langsung (secara fisik) dengan komputer sebagai alat (device) multimedia. Saat ini media/alat (device) multimedia penyampai informasi juga meliputi berbagai alat komunikasi yang baru muncul yang secara efektif dapat digunakan untuk berkomunikasi dengan komputer. Alat alat tersebut antara lain hand phone, telephone rumah, LCD viewer, alerter dan beberapa alat lain yang dapat dikendalikan secara langsung maupun tidak langsung dari komputer.


e. Input Multimedia
Selain multimedia dapat digunakan untuk menyampaikan informasi sehingga informasi disajikan dalam bentuk multimedia sebagai output dari sistem informasi. Input atau masukan ke dalam sistem juga dapat berupa masukan data data multimedia. Data data ini saat ini dapat masuk ke komputer tidak hanya melalui keyboard dan mouse tetapi dapat masuk ke komputer melalui berbagai alat/device untuk menangkap data multimedia. Misalnya kamera, scanner, sensor cahaya, telephopne rumah, telephon genggam sensor suara, barcode reader dan lain sebagainya. Dengan alat alat input ini maka input ke sistem akan menjadi semakin kaya, misalnya jika didalam sistem tersedia basis data residivis yang jumlahnya ribuan, kemudian dicoba mencari salah satui residivis dengan sampel fotonya maka sistem dapat melakukan pencarian dengan input melalui scanner. Algoritma yang dipakai untuk melakukan pencarian misalnya bisa dimanfaatkan algoritma wavelet untuk melakukan querying image.
Input multimedia diperlukan untuk melakukan data capturing (penangkapan data). Data multimedia lebih kaya dibanding dengan data data konvensional maka alat alat untuk menangkap data multimedia juga berbeda dengan alat data capturing yang biasa digunakan seperti keyboard dan mouse. Untuk menangkap citra (image) digunakan snanner, foto digital sampai foto satelit, sedangkan untuk merekam suara digunakan mikrofon dan diteruskan dengan alat alat lain untuk sound processing seperti mixer dan lain sebagainya. Untuk menangkap gambar bergerak digunakan video recorder dengan berbagai variasinya.


f. Sistem Informasi Berbasis Multimedia
Sistem informasi berbasis multimedia merupakan sebuah sistem informasi dengan konsep menggunakan masukan dan keluaran dengan bentuk data multimedia. Perubahan spesikasi teknologi yang digunakan pada blok masukan, blok basis data dan blok keluaran merupakan modifikasi yang dilakukan yang menjadi ciri sistem informasi berbasis multimedia dengan sistem informasi yang tidak berbasis multimedia. Proses pengolahan masukan kemudian disimpan dalam basis data dan kemudian dikeluarkan dalam alat (device) dengan berbagai variasi bentuknya tetap dilakukan oleh mesin. Mesin yang dimaksud disini adalah perangkat komputer dengan berbaai arsitekturnya. Peran manusia dalam sistem informasi berbasis multimedia tetap berada di luar sistem yaitu sebagai pemakai. Baik sebagai pemakai untuk melakukan/memberikan masukan (menangani aktifitas input data) maupun user yang bertindak sebagai konsumen informasi. Manusia sebagai pemilik sistem informasi ini dalam terminologi sistem informasi berbasis multimedia sama sekali tidak masuk ke dalam sistem menjadi penyedia informasi maupun pengolah informasi. Peran manusia di dalam sistem ini sekali lagi ditandaskan disini hanya sebagai penyedia data dan konsumen informasi.

Berbagai contoh kasus banyak dapat di lihat dan telah diterapkan, antara lain adalah sistem informasi pemetaan menggunakan basis data spasial, geographic information system yang diterapkan untuk memandu pengendara kendaraan bermotor menghindari jalan jalan macet dan lain sebagainya.

g. Contoh Kasus
Sebagai contoh kasus diambil sistem informasi pariwisata berbasis multimedia berdasarkan citra peta dari satelit. Sistem ini memiliki input citra yang berupa peta yang dihoto dari satelit. Citra ini kemudian diintegrasikan dengan data data yang lain seperti text, suara dan gambar. Integrasi data dilakukan dengan authoring tools seperti macromedia Director.
Citra inputan adalah sebagai berikut :

Sistem Informasi Penyuluhan Pertanian di Jepang dan

Oleh :
Kamaruddin AS dan Mansur Azis


Seorang Penyuluh Pertanian pembaca Tabloid Sinar Tani melalui Rubrik “SMS
Cangkul”, mengusulkan perlunya Balai Penyuluhan Pertanian dilengkapi perangkat
Teknologi Informasi sehingga mampu mengakses ke Internet.
Menurutnya hal ini akan memudahakannya memperoleh informasi berupa inovasi
teknologi dan kelembagan yang dibutuhkannya dalam mengupayakan kesejahteraan
masyarakat tani yang menjadi tugas pokok, fungsinya serta tanggung jawabnya.
Artikel ini adalah sumbangan pemikiran berkaitan usulan tersebut.
Teknologi Informasi Penyuluhan di Jepang
Penyuluhan Petanian di Jepang (meliputi Pertanian, Perikanan dan Kehutanan)
berawal pada tahun 1948 dengan tujuan utama mengembangkan difusi inovasi
teknologi yang diperoleh dari Lembaga Penelitian Pertanian untuk diteruskan kepada
para petani agar mengadopsi dan mengadaptasikannya pada kondisi usahatani yang
nyata pada wilayah-wilayah pengembangan pertanina. Tujuan penyuluhan terfokus
pada penerapan inovasi teknologi guna meningkatkan ketersediaan pangan dalam
jangka panjang ke depan menyusul kekalahan negaranya dalam Perang Dunia ke-2.
Kini kegiatan penyuluhan lebih diperluas, mencakup subsektor pendukungnya berupa
teknologi maju, pengelolaan kesuburan tanah, pemenuhan kebutuhan finansial
usahatani dan lainnya.
Berkaitan dengan keterbatasan personalia Penyuluh Pertanian dan keterbatasan
finansial pemerintah pusat dan wilayah (perfecture), maka kini di Jepang formulasi
penyebaran informasi sebagai promosi, mengawali kegiatan penyuluhan dan
komunikasi inovasi teknologi, bertumpu pada penggunaan komputer dan teknologi
informasi yang lebih efektif dan efisien. Materi informasinya bukan hanya inovasi
teknologi, tetapi juga inovasi kelembagaan, metode penyelenggaraan peenyuluhan,
serta ilmu pengetahuan dan teknologi lainnya. Pemeran utama dalam hal ini justru
bukan semata dari kelembagaan Pemerintah Jepang, melainkan juga dari Organisasi
Non Pemerintah yaitu Asosiasi Pembangunan dan Penyuluhan Pertaninan Jepang
(Japan Agricultural Development and Extension Assosiation). Assosisasi ini telah
membangun suatu sistem pertukaran informasi diantara para Pemandu Penyuluhan
Pertanian pada setiap wilayah pengembangan, dengan materi kumpulan kasus-kasus
Penyuluhan Pertanian yang berbasis pada Programa Penyuluhan, informasi tentang
Metode Penyuluhan, informasi teknis komoditas yang dikembangkan para petani, dan
informasi tentang temuan inovasi teknologi oleh Lembaga Penelitian Pertanian.
Dengan perangkat teknologi informasi, para Pemandu Penyuluhan petanian dapat
dengan cepat mempertukarkan informasi spesfik lokasi ke wilayah pengembangan
lainnya. Perangkat yang digunakan berkembang seiring waktu. Jika pada tahun 1975
sebagai, awal penerapannya menggunakan “Surat Berantai” (Snail Letter), maka pada
tahun 1985 beralih dengan menggalakkan penggunaan faximili, dan pada tahun 1990
diramaikan dengan penggunaan jaringan komunikasi personal yang diberi nama :
Nilai Tambah Jaringan Kerja Penyuluhan (Fukyu/Extemion Value Added). Jaringan
komunikasi yang paling populer diterapkan pada tahun 2000 sampai saat ini, sistem
diberi nama Jaringan Kerja Informasi Penyuluhan (Extension Information Network)
atau isingkat El-Net, dipadukan dengan internet, home page, dan dioperasikan oleh
Pusat Teknologi Informasi Jepang.
Dipihak lain pemerintah berperan menggerakkan Penyuluhan Pertanian untuk
masyarakat tani dan publik lainnya dengan pelayanan gratis karena biaya yang
diperlukan sudah termasuk pembiayaan pemerintah. Dengan sistem penyuluhan
demikian itu, lembaga Kerjasama Pelayanan Penyuluhan (Cooperative Extension
Services) menyelenggarakan penyuluhan dengan dukungan fiansial pemerintah pusat
dan wilayah (perfecture). Di Jepang pada tahun 2005 yang lalu terdapat sekitar 9.000
Penyuluh Pertanian yang bekerja pada 450 Pusat Penyuluhan Pertanian, tersebar pada
wilayah pemerintahan (Perfecture) dan bersinergi dengan Lembaga penelitian
Pertanian wilayah setempat.
Karakteristik pemanfaatan Teknologi Informasi di Jepang, didominasi oleh Lembaga
Jaringan Kerja Informasi Pertanian yang bernaung di bawahy Assosiasi Pembangunan
dan Penyuluhan Pertanian Jepang, menempatkan Pemandu Penyuluhan Wilayah
sebagai sasarannya. Jaringannya bersifatnya tertutup, ruang lingkup seluruh Jepang,
dan melibatkan banyak pihak, yakni (i) Departemen Pertanian, Perikanan dan
Kehutanan, (ii) Pemerintah Wilayah (Perfecture), (iii) Pusat-pusat Penyuluhan, (iv)
Lembaga Penelitian Pertanian Nasional, dan (v) Perusahaan publik.
Selain lembaga tersebut diatas, dijumpai pula Jaringan Kerja Lokal yangbbersifat
tertutup, dioperasikan oleh pemerintah wilayah dan Pusat Penyuluhan Petanian
dengan sasaran utama para petani , melibatkan lembaga pemerintahan wilayah, pusatpusat
penyuluhan, lembaga penelitian pertanian wilaya, dan koperasi pertanian serta
petani, dengan ruang lingkupnya wilayah. Adapun Home page, jaringan teknologi
informasi yang bersifat umum, terbuka dan dapat diakses semua pihak, termasuk
petani dan konsumen pertanian, melengkapi jaringan teknologi informasi lainnya.
Bagaimana dengan Penyuluhan di Indonesia?
Penyuluhan Pertanian di Era Kemerdekaan Indonesia saat ini terpaut 20 tahun ke
belakang dari segi waktu dengan Penyuluhan Pertanian di Jepang, namun dengan
kondisi yang berbeda yakni Jepang baru saja kalah perang versus Indonesia yang baru
merdeka. Penyuluhan muylai diintensifkan sejak awal tahun 1970-an, dengan
pendekatan terpadu penyediaan sarana pendukung, pengiolahan dan pemasaran hasil,
serta dukungan finansial di satu sisi, dan menarik dukungan struktur pedesaan
progresif di sisi lainnya. Pandekatan ini lazim disebut dengan Bimbingan Massal
(Bimas) yang disempurnakan dengan Wilayah Unit Desa (Wilud), mengacu kepada
Grand Teori A. T. Mosher tentang Pembangunan Pertanian.
Perangkat kelembagaanya kemudian lebih disempurnakan dengan lahirnya dan
berperannya organisasi dan kelembagaan Balai Penyuluhan Pertanian pada tahun1977
(efektif tahun 1978) yang berbasisi secara lokal/kecamatan pada setiap
Kabupaten/Kota, dan Balai Informasi Pertanian (BIP) yang keberadaannya melayani
informasi inovasi teknologi pertanian pada wilayah propinsi. BPP sebagai home basenya
Penyuluh Pertanian, sebagai konsumen informasi, dan BIP sebagai produsen dan
pelayan informasi. Peran optimal Penyuluhan Petanian dan perangkat pendukungnya
diyakini banyak pakar pertanian telah menyumbang 60% pencapaian swasembada
beras kita pad tahun 1984 yang lalu.
Kini di Era Komunikasi Global dimana perangkat Teknologi Informasi berupa
internet yang semarak dengan penyelenggara komersial berupa Warung Internet
(Warnet), bukan lagi barang asing. Terlebih lagi, perangkat Teknologi Informasi pada
tingkat Departemen Pertanian, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian, Balai-
Balai Penelitian dan Pengembangan Komoditas Pertanian sebagai penghasil inovasi
teknologi pertanian, juga telah memadai. Di tingkat wilayah saat ini terdapat 30 Balai
Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP), perangkat organisasi Badan Litabang
Pertanian yang mengakuisisi peran Balai Informasi Pertanian tempo dulu, berperan
sebagai penghasil Teknologi Tepat Guna Spesifik Lokasi, sekaligus memberikan
contoh diseminasinya, kini juga dilengkapi dengan perangkat Teknologi Informasi.
Dengan demikian, perangkat pemerintah pusat dan sumber-sumber inovasi teknlogi,
termasuk perangkatnya di wilayah pengembangan pertanian nampaknya siap berperan
tanpa hambatan (contoh terbaru lahirnya Website Prima Tani).
Karena itu, saatnya perhatian dan upaya penyediaan perangkat Teknologi Informasi
diarahkan kepada pengguna inovasi teknologi secara lokal kabupaten dan Balai
Penyuluhan Pertanian (BPP), yang bersentuhan langsung dengan berjuta petani yang
haus akan inovasi teknologi dan rekayasa kelembagaan pedesaan progresif,
melengkapi sistem, media dan metode penyuluhan konvensional kita saat ini yang
sedang bergelut dengan peningkatan kinerjanya. Informasi dan Penyuluhan Pertanian
pada rubrik “SMS Cangkul” di media kita ini, mungkin ada benarnya.
Kamaruddin AS dan Mansur Azis
Dimuat dalam tabloid Sinar Tani, 13 Desember 2006.

Penelusuran Jurnal Elektronik menggunakan EBSCOhost Research Databases

Oleh :
Arif Surachman


EBSCOhost Research Databases merupakan sebuah sistem referensi dan informasi ilmiah yang dapat diakses secara online melalui internet. Ebsco ini menyediakan akses ke berbagai database yang menyediakan informasi ilmiah dalam bentuk fulltext maupun sekedar informasi bibliografis dalam berbagai bidang ilmu. Saat ini Ebsco cukup banyak digunakan (dilanggan) oleh berbagai perguruan tinggi di Indonesia, diantaranya Universitas Gadjah Mada, Universitas Indonesia, Universitas Brawijaya, Universitas Airlangga, dan sebagainya.
Universitas Gadjah Mada pada saat ini paling tidak memiliki 3 buah Database yang dilanggan melalui Ebsco yakni: Academic Search Premier, Biomedical Reference Collection, dan Business Source Premier.
• Academic Source Premier: Merupakan database akademis untuk multidisiplin yang menyediakan kurang lebih 4, 650 terbitan berkala. Database ini diperbarui setiap hari melalui EBSCOhost.
• Biomedical Reference Collection: Database bidang kedokteran yang didesain untuk dokter, peneliti, mahasiswa, ahli klinis, dan manajer. Database ini setidaknya menyediakan 900 jurnal full text.
• Business Source Premier: Database yang diperuntukkan bagi penelitian bidang bisnis dan ekonomi yang memberikan akses ke dalam lebih dari 8.800 terbitan berkala. Database ini mencover seluruh bidang dalam bisnis termasuk pemasaran, manajemen, sistem informasi manajemen, POM, akuntansi, keuangan, dan ilmu ekonomi. Database ini diperbaharui setiap hari melalui EBSCOhost.
Berikut ini adalah beberapa pedoman singkat bagi penelusuran informasi ilmiah menggunakan database Ebsco.
Permulaan Akses
• Untuk mengakses database Ebsco kita dapat menggunakan alamat http://search.ebscohost.com. Akan tampil halaman awal pilihan layanan Ebsco yang dilanggan.
• Pilih layanan yang sesuai, misal EBSCOhost Web. Selanjutnya akan tampil halaman pilihan Database.
• Pilih database yang sesuai dengan bidang kita dengan memberi tanda pada checkbox yang tersedia di sebelah kiri. Misal untuk bidang Kedokteran Hewan, pilih Academic Search Premier atau Biomedical Reference. Klik Continue. Selanjutnya akan tampil halaman penelusuran “Advanced Search”
Mulai melakukan penelusuran.
Advanced Search
Melalui Advanced Search kita dapat melakukan penelusuran menggunakan beberapa field sekaligus, search history dan juga pembatas untuk memfokuskan penelusuran.
Langkah-langkah penelusuran
1. Pada Tab Menu Toolbar, klik Advanced Search. Selanjutnya akan menampilkan layer Advanced Search.
Pada Field Find, ketikkan kata kunci yang ingin dicari. Lihat contoh pada gambar 1.
2. Pilih field pada menu drop-down (misal., cari hanya pada Subject Term field).
3. Ulangi langkah 2 dan 3 pada baris kedua.
4. Pilih operator Boolean (AND, OR, NOT) untuk menggabungkan dua kata kunci yang dimasukaan dalam field Find.
5. Gunakan pembatas (Limiters) untuk mengarahkan pencarian:
• Full Text – membatasi hasil penelusuran hanya untuk artikel full text.
• Publication – membatasai hasil penelusuran untuk artikel dari nama publikasi tertentu.
6. Gunakan Expanders untuk meningkatkan penelusuran:
• Also search within the full text of the articles – memperluas hasil penelusuran dengan menemukan kata-kata didalam artikel full text.
• Automatically "And" search terms – memperluas hasil penelusuran melalui operator AND antara dua kata (terms).
• Also search for related words – memperluas hasil penelusuran termasuk didalamnya sinonim dan plurals.
Klik Search. Selanjutnya akan terlihat daftar hasil penelusuran (lihat pada gambar 2)
Basic Search
Langkah-langkah penelusuran:
Masukan keyword dalam field Find dan pilih beberapa limiters atau expanders yang mungkin ingin kita gunakan dalam penelusuran. Operator Boolean dapat juga digunakan dalam penelusuran ini. Untuk membersihkan field Find gunakan Clear. Untuk menset ulang limiters/expanders pada nilai defaults, klik tombol Reset.
Klik Search. Hasil penelusuran akan ditampilkan. Untuk mencetak, mengirim melalui e-mail, atau menyimpan hasil penelusuran, perlu digunakan add folder.
Memilih dan Menyimpan Hasil Penelusuran

Database Ebsco memungkinkan kita melakukan penyimpanan sementara penelusuran yang pernah kita lakukan dan juga hasil penelusuran yang telah kita pilih. Penyimpanan dilakukan di Folder yang telah disediakan oleh Ebsco. Berikut ini adalah beberapa gambaran mengenai proses pemilihan dan penyimpanan hasil penelusuran.

1. Untuk menentukan pilihan dan memasukkan hasil penelusuran pada folder sementara, klik ADD pada sebelah kiri daftar artikel sehingga berubah menjadi ADDED.
2. Penyimpanan berhasil apabila terlihat pada bagian Folder is empty berubah menjadi Folder has items.
3. Untuk melihat hasil pilihan yang telah kita tentukan klik pada Folder has items, selanjutnya Ebsco akan menampilkan daftar artikel yang telah kita pilih.
4. Klik pada Judul Artikel untuk melihat deskripsi bibliografis dari artikel tersebut, atau klik pada PDF Fulltext / HTML Fulltext untuk melihat artikel dalam versi selengkapnya.
5. Selanjutnya kita dapat melakukan pencetakan, penyimpanan, atau mengirimkan melalui e-mail. Klik pada bagian print untuk cetak, save untuk simpan, dan e-mail untuk pengiriman.
Beberapa tips penelusuran melalui EBSCO

• Gunakan (pilih) single database (misal: Academic Search Premier) untuk mempercepat akses dan menampilkan sub menu seperti publication, subject term, indexes, dan sebagainya.
• Gunakan kalimat atau kata-kata yang simple dan langsung pada subyek untuk mempercepat hasil yang diharapkan.
• Gunakan operator Boolean seperti AND, OR atau NOT.
o AND  menggabungkan dua keyword penelusuran dimana membatasi hasil penelusuran berisi kedua kata tersebut. Contoh, Avian AND Influenza akan menemukan artikel yang berisi kedua kata tersebut.
o OR  menggabungkan dua keyword penelusuran dimana hasil penelusuran setidaknya salah satu dari kata tersebut. Contoh, Avian OR Influenza akan menemukan salah satu dari kata tersebut.
o NOT  hasil penelusuran tidak akan menyertakan keyword yang mengikuti kata sebelumnya, misal Avian NOT Influenza, maksudnya adalah menemukan artikel yang berhubungan dengan Avian tapi bukan yang Influenza.
• Gunakan Wildcard (?) atau simbol Truncation (*) untuk mencari kalimat yang kita belum yakin tahu.
o Wildcard (?)  misalkan ketik ne?t maka akan mencari semua kutipan yang berisi neat, nest atau next. Wilcard ini hanya menggantikan sebuah karakter tunggal saja. Sehingga dalam kasus ini maka kata net tidak termasuk dalam pencarian.
o Truncation (*)  misalkan ketik comput*, maka akan mencari semua kata yang berawalan comput seperti computer atau computing.
• Gunakan Limiters / Expander untuk menghasilkan hasil terbaik sesuai dengan keinginan kita.
• Gunakan juga tanda quotation (“) apabila diperlukan untuk menelusur artikel dalam rangkaian keyword yang diinginkan. Misal “Avian Influenza”, maka penelusuran akan diutamakan pada frasa Avian Influenza sebagai satu kesatuan
Gunakan juga fasilitas tambahan seperti Subject Term, Publication atau Indexes untuk mencari artikel menggunakan Daftar Subjek dari Thesaurus, Daftar Publikasi/jurnal, atau Indeks kata. Catatan: fasilitas tambahan subject term, publication, dsbnya akan tampil apabila kita menggunakan pilihan single database.

Saturday, September 22, 2007

Kajian Penggunaan Secure Microcontroller sebagai Solusi Pengembangan Sistem Embedded yang Aman

Oleh:
Yusdi Saliman


Keamanan sistem informasi umumnya lebih banyak mengarah ke sistem yang melibatkan komputer PC (Personal Computer). Pada kenyataannya, sistem informasi juga melibatkan banyak sistem-sistem lain baik yang lebih besar dan kompleks maupun yang lebih kecil dan sederhana seperti embedded system (sistem embedded). Umumnya dalam desain embedded system, aspek security adalah aspek yang seringkali dilupakan, atau setidaknya bukan prioritas utama. Hal ini bukannya tanpa alasan. Bagaimana pun juga embedded system adalah sistem yang kecil dengan resource dan processing power yang sangat terbatas, sedangkan menambahkan implementasi security (misal kriptografi) berarti memberikan tambahan kebutuhan akan dua hal tersebut, yang akhirnya mungkin berakibat pada sistem yang menjadi semakin kompleks, dan lebih buruk lagi, semakin mahal. Namun demikian, dengan semakin kritikalnya aplikasi-aplikasi yang dialihkan ke embedded system, apalagi semakin banyak embedded system yang terhubung dengan internet, kebutuhan security dalam embedded system semakin terasa.
Ada sejumlah aspek yang membuat embedded system berbeda dari sistem yang “biasa”, dan beberapa masalah yang mungkin muncul juga berbeda sehingga perlu penanganan yang lebih khusus. Secure microcontroller merupakan salah satu solusi yang ditawarkan untuk embedded system security, yaitu mikrokontroler yang program dan datanya terlindungi dengan enkripsi ditambah deteksi terhadap berbagai serangan, serta biasanya juga menawarkan dukungan kriptografi secara hardware kepada programmernya dengan cryptographic engine. Contohnya adalah DS5250 buatan Dallas Semiconductor, sebuah secure microcontroller yang kompatibel dengan Intel 8051, dan keluarga AT90SC buatan Atmel, yaitu yang kompatibel dengan Atmel AVR.

Perpustakaan dalam Praktek Knowledge Enabler : Perspektif Pustakawan

Oleh :
Drs. Hartono, SS, MHum


Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi informasi dewasa ini antara lain ditandai perubahan perilaku dalam pencarian informasi (information seeking) yang berdampak bagi lembaga-lembaga yang bergerak dalam bidang jasa informasi dan perpustakaan. Perpustakaan sebagai lembaga yang bertugas menyimpan, mengolah dan mendistribusikan informasi dituntut agar mampu memberdayakan pengetahuan dengan menggali potensi yang dimiliki perpustakaan.
Kemajuan teknologi informasi menjanjikan kemudahan dalam manajemen pengetahuan (knowledge management) terutama bagi lembaga dalam bidang pengelolaan informasi secara elektronis termasuk perpustakaan. Perpustakaan sebagai salah satu penyedia informasi (information provider) harus berjalan seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi informasi dan kebutuhan informasi penggunanya. Bila dahulu fungsi perpustakaan lebih berkonsentrasi pada penyediaan informasi dalam bentuk fisik seperti dokumen tercetak dengan dilengkapi sistem katalog kartu, maka kini dengan berkembangnya teknologi informasi perpustakaan dituntut menyediakan sumber-sumber informasi dalam bentuk elektronik yang syarat dengan pengetahuan tak terstruktur.
____________________
*) Penulis adalah Pustakawan Perpustakaan Nasional RI
Teknologi internet yang merupakan bagian integral dari kehidupan sehari-hari membuat pada perilaku masyarakat pencari informasi mengalami banyak perubahan. Sumber daya elektronik yang tersedia melalui internet menjadi sasaran pertama bagi para pencari informasi. Perpustakaan tradisional merupakan penyedia utama sumber daya informasi dihadapkan pada tantangan baru untuk menyediakan informasi yang relevan dan tepat waktu serta berasal dari banyak sumber. Pustakawan dituntut secbagai subyek yang dapat memberdayakan pengetahuan (knowledge enabler) dengan mengeksplorasi konsep manajemen pengetahuan untuk diterapkan dilingkungan perpustakaan.
Tulisan ini mencoba menggali kembali fenomena yang telah lama berkembang, yang sangat bersentuhan dengan informasi dan pengetahuan dewasa ini. Pustakawan sebagai subyek pemberdaya pengetahuan mampu mengembangkan konsep manajemen pengetahuan. Sesuai dengan latar belakang profesi penulis sebagai pustakawan (librarian) maka konsep manajemen ini diarahkan pada peran pustakawan fungsional yang berada dalam organisasi perpustakaan.

B. Konsep Knowledge Management
Konsep pemberdayaan pengetahuan (knowledge enabler) pada hakikatnya adalah merupakan praktek pada konsep manajemen pengetahuan (knowledge management). Konsep manajemen pengetahuan berasal dan berkembang didunia bisnis, diterapkan dengan tujuan untuk meningkatkan dan memperbaiki pengoperasian perusahaan dalam rangka meraih keuntungan kompetitif dan meningkatkan laba. Manajemen pengetahuan digunakan untuk memperbaiki komunikasi diantara manajemen puncak dan diantara para pekerja untuk memperbaiki proses kerja, menanamkan budaya berbagai pengetahuan, dan untuk mempromosikan dan mengimplementasikan system penghargaan berbasis kinerja
Di dalam berbagai literatur, terutama pada awal berkembangnya pemanfaatan internet pada tahun 1990an, yang menjadi pendorong utama berkembangnya penerapan manajemen pengetahuan. Seperti telah disebutkan sebelumnya, hingga saat ini definisi manajemen pengetahuan masih beragam di antara para penulis. Perbedaan tersebut disebabkan oleh sulitnya untuk membedakan secara tegas antara informasi dan pengetahuan.
Pemahaman konsep pengetahuan dan informasi menimbulkan berbagai penafsiran berbeda-beda. Para ahli dibidang informasi menyebutkan bahwa informasi adalah pengetahuan yang disajikan kepada seseorang dalam bentuk yang dapat dipahami; atau data yang telah diproses atau ditata untuk menyajikan fakta yang mengandung arti. Sedangkan pengetahuan berasal dari informasi yang relevan yang diserap dan dipadukan dalam pikiran seseorang. Sedangkan pengetahuan berkaitan dengan apa yang diketahui dan dipahami oleh seseorang. Informasi cenderung nyata, sedangkan pengetahuan adalah informasi yang diinterpretasikan dan diintegrasikan.
Menurut Koina dalam Siregar (2005) manajemen pengetahuan adalah suatu disiplin yang mempromosikan suatu pendekatan terintegrasi terhadap pengidentifikasian, pengelolaan dan pendistribusian semua asset informasi suatu organisasi. Sedangkan Laudon (2002) manajemen pengetahuan berfungsi meningkatkan kemampuan organisasi untuk belajar dari lingkungannya dan menggabungkan pengetahuan dalam suatu organisasi untuk menciptakan, mengumpulkan, memelihara dan mendiseminasikan pengetahuan organisasi tersebut. Teknologi informasi memainkan peranan penting dalam manajemen pengetahuan sebagai pemungkin proses bisnis yang bertujuan yang bertujuan untuk menciptakan, menyimpan, memelihara dan mendiseminasikan pengetahuan
Menurut Kim yang dikutip Siregar (2005) bahwa pengetahuan adakalanya dikategorikan sebagai terstruktur, tidak terstruktur, eksplisit atau implisit. Jika pengetahuan diorganisasikan dan mudah didiseminasikan disebut pengetahuan terstruktur. Pengetahuan yang tidak terstruktur dan dipahami, tetapi tidak dengan jelas dinyatakan adalah pengetahuan implisit. Pengetahuan implisit juga disebut tacit (dipahami tanpa dikatakan), yaitu keahlian dan pengalaman pekerja yang belum didokumentasikan secara formal Untuk mengkonversi pengetahuan implisit ke dalam pengetahuan eksplisit, pengetahuan tersebut harus diekstraksi dan diformat.

C. Penerapan Knowledge Enabler pada Perpustakaan
Pada prinsipnya manfaat dari konsep manajemen pengetahuan adalah untuk meningkatkan kinerja perpustakaan. Manajemen pengetahuan dapat dijadikan sebagai pemicu agar pustakawan lebih inovatif dan kreatif dalam menyiasati cakupan muatan elektronik yang harus dicakup dalam konsep perpustakaan elektronik/digital yang telah dikembangkannya selama ini. Masih banyak muatan pengetahuan eksplisit yang belum tersedia dalam bentuk elektronik yang sesungguhnya dibutuhkan oleh para pengguna perpustakaan. Pustakawan juga harus berupaya mengidentifikasi pengetahuan implisit dan mengembangkan sistem yang diperlukan untuk menanganinya. Walaupun hal yang disebutkan terakhir bukan pekerjaan yang mudah, tetapi prakarsa ke arah itu harus ditumbuhkan dan sedapat mungkin diimplementasikan.
Seperti telah disebutkan di atas, manajemen pengetahuan di lingkungan perpustakaan dapat dikembangkan dan diimplementasikan sebagai perluasan prakarsa perpustakaan elektronik. Bagi perpustakaan yang telah mengembangkan perpustakaan elektronik selama ini, yang diperlukan adalah mengintegrasikan konsep manajemen pengetahuan dalam hal pemerolehan, pengorganisasian, pemeliharaan, dan pendistribusian pengetahuan termasuk pengetahuan informal, tidak terstruktur, dan eksternal yang menyangkut lembaga induknya. Perpustakaan yang belum memiliki perpustakaan elektronik harus mulai mengembangkannya kalau masih tetap ingin dipandang sebagai penyedia informasi dan pengetahuan yang utama.
Untuk itu, berbagai perangkat pendukung yang diperlukan harus dipersiapkan termasuk organisasi dan kebijakan yang harus ditetapkan pada tingkat institusi induk perpustakaan. Didalam organisasi perpustakaan harus terdapat satu bagian atau satu tim yang menangani pengorganisasian dan penyediaan pelayanan manajemen pengetahuan. Bagian atau tim ini sebaiknya diintegrasikan dengan pelayanan perpustakaan elektronik dengan cakupan muatan yang lebih luas tidak hanya terbatas pada proses pendigitalisasian dokumen cetak yang diterima oleh perpustakaan. Dengan suatu kebijakan organisasi induk, sejumlah naskah elektronik dari berbagai jenis dokumen, yang selama ini tergolong kelabu, dapat mengalir ke perpustakaan dan dapat segera dimuat pada situs web seperti yang telah dilakukan oleh sejumlah perpustakaan selama ini. Sebagai cara untuk meningkatkan kualitas perpustakaan, maka pustakawan sudah selayaknya menguasai pengetahuan sistematis (eksplisit) maupun pengetahuan yang tidak terstruktur (tacit).
Selain itu, perpustakaan harus aktif mengidentifikasi berbagai pengetahuan yang diciptakan di lingkungannya baik yang merupakan karya perorangan/kelompok maupun karya institusional. Dilingkungan organisasi perpustakaan karya perorangan/kelompok termasuk antara lain: disertasi dan tesis, makalah, baik yang dipresentasikan dalam suatu pertemuan ilmiah maupun yang ditulis untuk didokumentasikan di perpustakaan; handout; artikel jurnal yang diterbitkan di perpustakaan sendiri; laporan penelitian; laporan pengabdian kepada masyarakat; artikel surat kabar, bulletin dan laporan berkala internal; monograf dan proposal penelitian.

D. Perspektif Pustakawan
Mencermati kondisi pustakawan dalam memberikan layanan perpustakaan dan infromasi melalui pengamatan dan berbagai diskusi, ada dua faktor sebagai alasan untuk mengatakan, bahwa citra pustakawan belumlah menggembirakan antara lain faktor internal dan faktor eksternal.
Ditinjau dari faktor internal antara lain (1) pustakawan masih berkutat pada pelayanan konvensional dengan menggunakan sistem layanan tradisional (2) masih rendahnya kualitas sumber daya manusia/pustakawan, baik dari kualitas teknis maupun kualitas fungsional. Dari segi kualitas teknis pustakawan banyak dijumpai pustakawan yang belum memiliki kemampuan teknis berkomunikasi, manajerial, penguasaaan teknologi informasi dan bahasa asing. Dari segi kualitas fungsional meliputi dimensi kontak dengan pemakai, sikap, perilaku, hubungan internal pustakawan (3) terbatasnya sarana penelusuran yang tersedia dalam bentuk abstrak, isi buku, teks penuh (fulltext) atau dalam bentuk review. Sedangkan masalah eksternal antara lain (1) Perpustakaan belum memiliki komitmen dalam mengembangkan pustakawan sehingga pemberdayaan perpustakaan diseluruh Indonesia mengalai kesulitan. (2) masih rendahnya jiwa kemandirian (entrepreneurship).
Mencermati perkembangan manajemen pustakawan dan kaitannya dengan kompetensi pustakawan menurut Hakrisyati Kamil (2005) bahwa pustakawan Indonesia pada umumnya memiliki keterbatasan antara lain :(1) kurang memiliki pengetahuan bisnis (2) pustakawan tidak memikili kemampuan untuk bergerak secara bersamaan dalam ruang lingkup informasi, organisasi dan sasaran organisasi (3) Kemampuan kerjasama sebagai dalam kelompok dan juga kepemimpinannya tidak memadai untuk posisi strategis dan (4) kurang memiliki kemampuan manajerial.


E. Pustakawan dalam Praktek Knowledge Enabler
Dalam lingkungan organisasi perpustakaan manajemen pustakawan dilihat sebagai komunikasi ilmiah dan proses penyampaian informasi harus diberi nilai tambah dengan mengorganisasikan pengetahuan yang diciptakan dan dikemas diluar perpustakaan. Perpustakaan harus dijadikan penerbit pengetahuan bagi masyarakat pengguna.
Pertama, pustakawan berperan sebagai fasilitator utama dalam berbagai pengetahuan, dengan menciptakan budaya dan memelihara infrastruktur yang diperlukan untuk mengoperasikan manajemen pengetahuan.
Kedua, pustakawan berperan dalam mengambil manfaat dari konsep manajemen pengetahuan dengan tujuan untuk meningkatkan kinerja perpustakaan. Manajemen pengetahuan dapat dijadikan sebagai pemicu agar pustakawan lebih inovatif dan kreatif dalam menyiasati sakupan elektronik yang harus dicakup dalam konsep perpustakaan elektronik yang telah dikembangkannya selama ini. Masih banyak muatan pengetahuan eksplisit yang belum tersedia dalam bentuk elektronik yang sesungguhnya dibutuhkan oleh para pengguna perpustakaan.
Ketiga, pustakawan juga harus berupaya mengidentifikasi pengetahuan eksplisit dan mengembangkan sistem yang diperlukan untuk menanganinya dengan mengembangkan pengetahuan tak terstruktur (tacit)
Keempat, pustakawan harus segera mengambil prakarsa untuk mengeksplorasi potensi informasi dan pengetahuan yang terdapat dilingkungannya masing-masing dan mengembangkan system untuk penanganannya, termasuk penyiapan sumber daya manusia, organisasi, infrastruktur teknologi informasi, dan infrastruktur hukum yang diperlukan untuk itu.
Solusi yang harus dipenuhi terhadap pustakawan dalam memberdayakan pengetahuan antara lain : Pertama, pustakawan harus dapat meningkatkan kemampuan dalam teknologi informasi yang memadai. Kedua, mengembangkan komunikasi ilmiah (science communication) bagi sesama pustakawan. Ketiga, menumbuhkan jiwa kewirausahaan (entreprenuership) dan core bisnis. Keempat, pustakawan diharapkan mampu meningkatkan kompetensi manajerial dan kepemimpinan berbasis informasi.
Penutup
Manajemen pengetahuan menjajikan suatu perubahan yang berfokus pada pengembangan dan penggunaan teknologi informasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas suatu organisasi. Manajemen pengetahuan menawarkan suatu peluang bagi profesional informasi dan perpustakaan untuk menjadikan diri mereka relevan terhadap tuntutan jaman. Walaupun masih banyak masalah di sekitar manajemen pengetahuan, tetapi konsep yang ditawarkannya dapat dijadikan sebagai titik tolak bagi pustakawan untuk lebih berperan secara substansial dalam menyediakan seluruh pelayanan informasi dan pengetahuan bagi pengguna perpustakaan. Pustakawan harus segera mengambil prakarsa untuk mengeksplorasi potensi informasi dan pengetahuan yang terdapat di lingkungannya masing-masing dan mengembangkan sistem untuk penanganannya, termasuk penyiapan sumber daya manusia, organisasi, infrastruktur teknologi informasi, dan infrastruktur hukum yang diperlukan.
Apa yang penulis kemukakan didalam tulisan ini merupakan paparan penulisan ilmiah sehingga dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk memaksimalkan peran dan fungsi pustakawan dalam melayani layanan kepada masyarakat. Penulis menyadari, bahwa untuk melakukan suatu perubahan paradikma kepustakawanan apalagi menyangkut pemberdayaan pengetahuan tidaklah semudah membalik telapak tangan, karena itu memerlukan tekad dan komitmen yang kuat dari pustakawan sendiri serta dukungan nyata dari organisasi perpustakaan.
Sudah selayaknya organisasi perpustakaan sebagai lembaga informasi menjadikan model bagi dirinya sendiri, sebagai pelatih (trainner) bagi dirinya sendiri. Oleh karena itu perlu membenahi diri sekaligus memiliki komitment yang mantap dalam memberdayakan pengetahuan semaksimal mungkin. Semoga dengan pemahaman konsep pemberdayaan pengetahuan (kenowledge enabler) sebagai moment yang dapat menumbuhkan peran pustakawan dalam menoreh kedepan sebagai lembaga informasi yang dapat memuaskan tuntutan kebutuhan informasi dan selalu dekat dihati masyarakat.

“PERKEMBANGAN SISTEM INFORMASI MENUJU TERBENTUKNYA MASYARAKAT INFORMASI"

oleh:
Rhiza S. Sadjad

Banyak pakar menyepakati bahwa kehidupan manusia di muka bumi saat ini tengah berada dalam peralihan dari era industri ke era pasca-industri (post-industrial). Jika pada era industri, energi merupakan issue sentral, maka pada era pasca-industri, informasi merupakan issue sentral. Sebagaimana energi dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain menggunakan sistem transportasi, maka pertukaran informasi dilakukan melalui sistem komunikasi. Jika peristiwa jatuhnya bom atom (yang merupakan rekayasa energi yang canggih pada masanya) di Hiroshima dan Nagasaki pada tahun 1945 merupakan peristiwa bersejarah yang menandai era industri, maka boleh dikatakan bahwa peristiwa WTC 911 tahun 2001 (yang sarat dengan rekayasa teknologi informasi) merupakan “pertanda jaman” dari era pasca-industri yang sering disebut juga sebagai era informasi (lihat Tabel 1).

Era PeradabanIssue SentralPeristiwa DahsyatPERTANIANLAHAN TANAMREVOLUSI SOSIAL dan KEMERDEKAANINDUSTRIENERGIHIROSHIMA NAGASAKIINFORMASIINFORMASIWTC 911
Tabel 1
Berbagai Pertanda Jaman

Dalam peristiwa WTC 911 dua tahun lalu itu kita menyaksikan bagaimana pesawat-pesawat dari penerbangan sipil komersial telah di-rekayasa dengan teknologi informasi yang sangat canggih menjadi peluru-peluru kendali yang secara akurat telah menghancurkan beberapa sasaran penting di Amerika Serikat, yang belum pernah sebelumnya tersentuh oleh serangan musuh dalam berbagai peperangan yang melibatkan Amerika Serikat.

Claude Shannon adalah seorang peneliti di Laboratorium Bell yang pada tahun 1948 berhasil menurunkan secara matematis Teori Informasi (Information Theory). Risalah berjudul “Mathematical Theory of Communication” setebal 55 (limapuluh lima) halaman yang ditulis oleh Shannon telah membuka jalan ke era informasi. Seorang pakar ilmu komunikasi bernama Everett M. Rogers menyebut Claude Shannon dan juga Norbert Wiener (bapak Cybernetics) dalam bukunya sebagai “the engineers of communication”. Rogers juga yang dalam buku yang sama men-definisikan masyarakat informasi sebagai masyarakat yang sebagian besar warganya bekerja sebagai pekerja informasi, yang memperoleh nafkahnya dari mem-produksi, mengolah, menyebarkan informasi dan mem-produksi teknologi informasi. Dengan mengambil pengalaman Amerika Serikat yang sejarah komposisi tenaga kerjanya dapat dilihat pada Gambar 1, Rogers menggolongkan para peneliti, guru, dosen, manajer, sekretaris, wartawan, reporter, teknisi komputer, semua dalam kategori pekerja informasi yang diramalkan kelak akan memiliki peran dominan dan strategis dalam pembentukan masyarakat informasi.


1800- 18201820- 18401840- 18601860- 18801880- 19001900- 19201920- 19401940- 19601960- 1980
Gambar 1
Perubahan komposisi angkatan kerja di Amerika Serikat 1800-1980
(Sumber: Everett M. Rogers, [1986], “Communication Technology”, hal. 11)


SISTEM INFORMASI

Ketika kami memperhatikan bagaimana pegawai-pegawai administrasi di kantor kami menyusun surat-surat rutin yang secara reguler dikirim, kami baru menyadari bahwa walau pun surat-surat itu diketik dengan peralatan canggih berupa komputer, tapi sesungguhnya sistem informasi yang digunakan masih merupakan sistem informasi berbasis manual. Kami melihat bahwa ketika akan dibuat surat yang sama, maka yang dilakukan adalah meng-copy surat yang lama, kemudian mem-paste-nya pada halaman berikutnya, mengganti nomer, tanggal dan beberapa point informasi yang berubah. Dengan demikian, ketika dalam seminggu misalnya ada 20 surat yang sama harus dikirimkan, yang dibuat oleh pegawai kami adalah satu file surat berisi 20 halaman, masing-masing halaman berisi surat yang sama persis, hanya nomer, tanggal dan beberapa informasi saja yang berbeda.

Melihat kenyataan di atas, kami menyadari bahwa bagi kebanyakan kita, komputer baru berfungsi sebagai mesin ketik yang lebih canggih, yang tidak memerlukan tenaga dalam menekan tuts-tuts keyboard-nya, tidak memerlukan kertas karbon untuk membuat rangkapannya dan tidak memerlukan tip-ex untuk menghapus kesalahan.

SISTEM INFORMASI BERBASIS KOMPUTER

Sebagai suatu mesin pengolah data, komputer merupakan alat bantu yang tepat bila ada pekerjaan yang dilakukan secara berulang, yang tentunya akan membosankan bila dilakukan oleh manusia. Di kantor kami misalnya, menyusun surat pengantar bagi mahasiswa yang akan melaksanakan Kerja Praktek adalah salah satu pekerjaan rutin yang selalu berulang. Dalam surat pengantar itu, yang berubah hanya nomer surat, tanggal, nama dan nomer stambuk mahasiswa yang akan melaksanakan Kerja Praktek serta nama dan alamat perusahaan tujuan Kerja Praktek tersebut. Tentu saja akan menghabiskan waktu dan sangat membosankan bila surat seperti itu setiap kali harus diketik ulang. Demikian juga, pada hakekatnya sama saja dengan mengetik ulang sebenarnya jika surat tersebut setiap kali harus di-copy dan di-paste ke halaman baru. Jika sistem informasinya sudah benar-benar berbasis komputer, maka yang perlu diketik masuk hanya nomer stambuk mahasiswa dan nama perusahaan tujuan Kerja Praktek saja. Nomer surat, tanggal, nama mahasiswa dan surat itu sendiri mestinya secara otomatis tinggal dicetak keluar setelah nomer stambuk mahasiswa dan nama perusahaan tujuan Kerja Praktek diketik masuk dengan menggunakan satu form tertentu. Bukan itu saja, suatu sistem informasi yang benar-benar berbasis komputer mestinya bisa secara otomatis dapat mengeluarkan daftar surat pengantar Kerja Praktek yang sudah dikeluarkan, baik berdasarkan urutan nomer surat dan tanggal, atau berdasarkan nomer stambuk mahasiswa, misalnya.

Tentu saja banyak lagi dalam bidang administrasi yang bisa dibantu oleh komputer selain membuat surat. Semua pekerjaan yang secara rutin dilakukan berulang-ulang, semua pekerjaan yang memerlukan ingatan kuat dan kalkulasi yang akurat, pekerjaan-pekerjaan yang membosankan dan selalu membuka peluang kesalahan manusiawi, semua ini akan lebih mudah dan lebih sederhana jika dikerjakan dengan bantuan komputer. Tapi, harus diingat bahwa tidak semua memang pekerjaan menjadi lebih baik dan lebih mudah jika dilaksanakan dengan bantuan komputer. Pekerjaan yang memerlukan tanggungjawab dan akuntabilitas tidak akan lebih baik jika diserahkan kepada komputer untuk mengerjakannya. Sebab komputer tidak bisa mempertanggung-jawabkan pekerjaan yang dilakukannya, komputer tidak bisa dimutasi, diberi sanksi atau diberhentikan dengan tidak hormat, komputer tidak bisa dihukum karena kesalahannya. Sebagai contoh misalnya ketika terjadi kesalahan atau gangguan pada sistem komputer suatu Bank sehingga terjadi kekacauan dalam pencatatan saldo rekening ATM (Automatic Teller Machine), maka komputer jelas tidak bisa mengganti uang nasabah yang hilang, atau uang Bank yang hilang, bahkan vendor yang men-supply peralatan komputer itu pun tidak bisa dituntut untuk mengganti uang yang hilang akibat kesalahan sistem. Perlu diingat bahwa tidak ada sistem komputer yang bebas kesalahan (error free), yang ada adalah sistem yang punya toleransi terhadap kesalahan (fault tolerant).

Saya teringat dengan instansi-instansi pelayanan publik seperti PT. PLN dan PDAM yang biasa menyalahkan komputer-nya jika terjadi kesalahan dalam pencatatan jumlah tagihan kepada pelanggan. Padahal semua orang tahu, bukanlah komputer yang mendatangi rumah-rumah pelanggan untuk mencatat meteran listrik dan meteran air, melainkan petugas. Kita semua tahu bahwa komputer hanya berfungsi sebagai alat bantu, ketika manusia terlalu lelah atau terlalu bosan untuk mengerjakan suatu pekerjaan, maka bagian yang melelahkan dan membosankan dari pekerjaan itulah yang diserahkan kepada komputer, dengan tanggungjawab sepenuhnya tetap ada pada petugas atau pejabat yang menggunakan komputer tersebut. Kita semua mengenal konsep “garbage in - garbage out”, sampah dimasukkan ke komputer, sampah pula yang akan dihasilkannya!

Alangkah baiknya jika para penentu kebijakan dapat menimbang-nimbang dengan baik sebelum menerapkan otomatisasi atau komputerisasi di tempat pekerjaannya. Seyogyanya terlebih dahulu dipilah-pilah dengan cermat, mana bagian-bagian dari pekerjaan yang akan lebih cepat, lebih rapih, lebih teliti dan lebih akurat jika dikerjakan oleh tangan-tangan manusia yang trampil dan cekatan secara manual saja, dan mana pekerjaan yang akan lebih baik jika dikerjakan dengan bantuan komputer. Saya sendiri pernah mengalami dua jam menunggui seorang sekretaris di sebuah kantor instansi yang terpandang di Makassar ini mencoba membuat print-out alamat di atas amplop sebuah surat yang saya perlukan. Seandainya sang sekretaris menggunakan mesin ketik manual, mungkin dua menit saja sudah selesai, atau jika sang sekretaris mengenali fasilitas “Envelopes and Labels” yang ada dalam paket pengolah kata (Word Processor)-nya, tentu amplop itu selesai dalam bilangan detik saja. Tapi nyatanya saya telah menunggu amplop itu selesai tercetak selama dua jam. Untung ketika itu hujan deras di luar, dan kantor tempat sang sekretaris bekerja cukup nyaman untuk bersabar menunggu.

SISTEM INFORMASI BERBASIS JARINGAN KOMPUTER

Ketika kita melihat printer-printer di kantor mulai “berjalan-jalan” (maksudnya dipindah-pindahkan) dari satu komputer ke komputer lainnya, atau ketika diskette-diskette mulai sering keluar-masuk drive A komputer yang satu dan yang lain untuk memindah-mindahkan file-file, maka inilah sebagian dari tanda-tanda ada gejala kita perlu meningkatkan sistem informasi yang berbasis komputer menjadi sistem informasi berbasis jaringan komputer. Gejala lain adalah ketika mulai ada pegawai yang antri menunggu untuk menggunakan suatu komputer - sementara komputer lainnya menganggur tidak dipakai - dengan alasan file-file yang diperlukan atau perangkat lunak yang akan digunakan hanya ada di satu komputer dan tidak tersedia di komputer lainnya. Satu-satunya jalan keluar adalah membangun jaringan komputer sehingga dapat dilakukan penggunaan sumber-daya secara bersama atau “resource sharing”. Memang prinsip dasar dari pembangunan jaringan komputer adalah “resource sharing” ini, sehingga peralatan accessories seperti printer, modem, scanner dan lain-lain, juga file-file, database serta berbagai fasilitas perangkat lunak dapat dimanfaatkan secara bersama dari beberapa komputer yang berfungsi sebagai terminal atau work-station. Kebutuhan akan jaringan juga akan terasa ketika data yang semestinya semacam mulai terlihat beragam. Bank yang baik harus menggunakan sistem jaringan komputer, sebab tidak bisa saldo rekening nasabah misalnya ditampilkan berbeda di satu kantor cabang dengan kantor cabang yang lain, atau dari satu mesin ATM dengan mesin ATM yang lain. Demikian juga maskapai penerbangan yang baik mestinya menerapkan sistem jaringan dalam komputerasi data penumpang. Tidak boleh terjadi perbedaan daftar penumpang yang ada di kantor cabang dengan daftar penumpang yang ada di counter-nya di Bandara. Daftar mahasiswa peserta kuliah di sebuah perguruan tinggi, apalagi daftar nilai misalnya, tidak boleh lain di Jurusan, lain di Fakultas dan lain lagi di Biro Akademik di Universitas, seperti yang terjadi di tempat kami bekerja, akibat belum diterapkannya sistem jaringan komputer secara penuh.

ORGANISASI JARINGAN

Dikenal luas ada berbagai macam topologi jaringan. Ada yang membangun konfigurasi bus, ring, star, mesh, dan seterusnya, atau kombinasi dari berbagai konfigurasi tersebut seperti terlihat pada Gambar 2. Dalam organisasi model begini, hampir-hampir tidak dikenal adanya hierarkhi, dan sudah pasti tidak ada level-level. Semua konfigurasi jaringan umumnya terdiri dari 2 (dua) unsur, yaitu node (simpul) dan link yang menghubungkan node yang satu dengan yang lain. Tidak ada orientasi dan mobilitas vertikal (karena tidak ada level-level), yang ada biasanya hanya orientasi “to get things done”, atau selesainya pekerjaan yang dibebankan.

Arsitektur jaringan tidak hanya diterapkan pada organisasi manusia, melainkan juga pada berbagai sistem hasil rekayasa manusia, seperti jaringan telekomunikasi, jaringan listrik, jaringan transportasi, jaringan komputer, Internet, dan lain sebagainya. Berbagai sistem organik pada makhluk hidup pun dipersepsi tersusun dalam struktur jaringan, seperti jaringan sel, jaringan saraf, jaringan pembuluh darah, dan masih banyak lagi.

Dalam pengorganisasian kegiatan-kegiatan kelompok manusia, struktur jaringan mulanya dikenal diterapkan pada kegiatan-kegiatan illegal yang berhubungan dengan kejahatan. Keluarga Mafia di Amerika Serikat, misalnya, walau pun diketahui umum mempunyai struktur hierarkhi yang kuat berdasarkan hubungan keluarga, tapi dalam operasi kejahatan (dan kebaikan juga) yang mereka lakukan, sepenuhnya ditunjang oleh sistem jaringan. Gerakan-gerakan politik bawah tanah, kegiatan terrorisme, spionase dan intelijen umumnya beroperasi dengan sistem jaringan. Baru akhir-akhir ini saja sistem jaringan di-adopsi untuk kegiatan-kegiatan legal dengan tujuan-tujuan kebaikan, seperti dalam dunia bisnis dikenal jaringan MLM (Multi-level Marketing, walau pun menggunakan istilah “level” tapi tidak sama pengertiannya dengan level-level struktural pada sistem organisasi konvensional), kegiatan-kegiatan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat), bahkan upaya pengentasan kemiskinan seperti proyek “Jaring Pengaman Sosial” (JPS) pada mulanya dikonsepkan untuk menerapkan sistem jaringan tapi kemudian terjebak dalam struktur birokrasi pemerintahan.

Peredaran NARKOBA, misalnya, jelas sekali meng-adopsi konsep jaringan, karena lebih andal dan sulit dibongkar. Mungkin pada suatu saat bisa ditangkap satu-dua node atau diputus satu dua link, tapi keseluruhan jaringan tetap beroperasi, node-node dan link-link baru dengan mudah dibentuk dan dioperasikan. Konsep jaringan juga memudahkan penyusupan ke seluruh lapisan masyarakat karena fleksibilitasnya. Siapa saja bisa jadi node atau link dari jaringan peredaran ini, kadang-kadang tanpa disadari atau pun disengaja. Misalnya kalau sejumlah “barang” (NARKOBA maksudnya) “dititipkan” pada tas penumpang pesawat tanpa sepengetahuan yang bersangkutan, maka penumpang pesawat tersebut telah menjadi link tanpa disadari.

MASALAH TERKINI

Berbicara mengenai perkembangan Teknologi Informasi dalam rangka membangun sistem informasi menuju terbentuknya masyarakat informasi, ada sedikitnya 2 (dua) masalah terkini (current issues) yang sedang ramai diperbincangkan dalam diskusi para pakar. Masalah pertama adalah masalah Hak Cipta dan Kepemilikan Intelektual (Copy Rights and Intellectual Property Rights), sedangkan yang kedua adalah masalah Teknologi Telekomunikasi Tanpa Kawat (Wireless Technology).

Masalah yang pertama terkait erat dengan masalah pembajakan perangkat-lunak (software) komputer yang merupakan dilemma yang dihadapi oleh kebanyakan masyarakat pengguna komputer di negera-negara miskin. Di satu sisi, masyarakat pengguna memang sangat memerlukan perangkat-perangkat lunak tersebut dalam rangka mengatasi masalah “digital divide” (kesenjangan pemanfaatan teknologi digital antara negara-negara maju yang mengusainya dengan negara-negara miskin yang memerlukannya). Di sisi lain harga jualnya di luar jangkauan daya beli mereka. Akhirnya maraklah pembajakan terhadap perangkat-perangkat lunak tertentu yang memang sangat dibutuhkan oleh masyarakat luas. Upaya-upaya yang dilakukan untuk mengatasi masalah pembajakan ini dalam koridor hukum formal umumnya menemui jalan buntu karena ke-tidak-siap-an baik perangkat-perangkat regulasi yang tersedia mau pun aparat penegak hukumnya sendiri. Kebuntuan ini kemudian mendorong dilakukan-nya upaya-upaya di luar jalur hukum, yang terkait erat dengan penyebaran virus. Baik fihak-fihak yang pro mau pun kontra terhadap penggunaan perangkat-perangkat lunak bajakan, kedua-duanya menyebarkan virus-virus komputer untuk mengganggu para pengguna perangkat-perangkat lunak tersebut. Contoh mutakhir adalah gangguan virus “WormBlaster” terhadap penggunaan perangkat-lunak Windows 2000 dan Windows-XP, yang sempat mengganggu operasi jaringan komputer di seluruh dunia. Jadi ada indikasi kuat bahwa akar permasalahan dari penyebaran virus-virus yang menghantui pengguna komputer di seluruh dunia adalah masalah Hak Cipta dan Kepemilikan Intelektual yang cenderung monopolistik dan eksploitatif dan cenderung mengarah kepada ke-tidak-adil-an yang tidak mendukung terciptanya masyarakat informasi global yang damai dan sejahtera. Oleh karenanya, patut didukung upaya-upaya penggunaan produk-produk perangkat lunak yang bersifat “freeware” dan “shareware”, yaitu dengan berpartisipasi aktif dalam promosi penggunaan perangkat lunak yang bersifat “open-source”, misalnya penggunaan sistem operasi berbasis LINUX.

Masalah yang kedua menyangkut perkembangan teknologi telekomunikasi tanpa kawat (wireless) yang didorong oleh penetrasi yang sangat cepat dari teknologi telpon seluler (cellular telephone technology) dan teknologi jaringan lokal tanpa kawat (wireless LAN). Integrasi total dari kedua teknologi ini akan segera menjadi kenyataan, sehingga kendala infrastruktur yang menghambat perkembangan jaringan komputer selama ini akan segera teratasi. Di sisi lainnya, berbagai masalah yang terkait dengan sistem telekomunikasi, seperti masalah regulasi, standarisasi, pemakaian lebar pita frekuensi (bandwidth) dan pengaturan penggunaan frekuensi radio (radio frequency allocation) akan menjadi masalah pula dalam pengembangan teknologi informasi.

TEKNOLOGI INFORMASI DAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH “Antara Konsep dan Implementasi”

Oleh: Tim ICT BPPLSP Regional V Makassar


Persaingan yang ketat di segala aspek kehidupan saat ini telah membuka mata kita bahwa betapa pentingnya informasi. Informasi bukan lagi sebagai komoditas yang dapat dikesampingkan namun telah menjelma menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan menguasai informasi seseorang dapat dengan mudah mendapatkan sesuatu yang diharapkannya bahkan dapat mewujudkan hal yang dianggap tidak mungkin menjadi kenyataan.
Meningkatnya kebutuhan masyarakat akan informasi dibarengi pula dengan semakin majunya teknologi informasi sehingga makin memudahkan mengakses informasi tanpa dibatasi jarak dan waktu. Walaupun demikian, kita masih bisa melihat masih banyak terjadi kesenjangan di masyarakat menyangkut pemerataan informasi. Hal ini dapat terjadi karena beberapa faktor, diantaranya;
1.Belum meratanya infrastruktur penunjang teknologi informasi.
Selama ini infrastruktur penunjang teknologi informasi lebih banyak berkumpul di wilayah perkotaan. Di wilayah Sulawesi Selatan misalnya, infrastruktur teknologi informasi yang lengkap dan memadai hanya berada di wilayah kota Makassar dan Parepare saja sehingga masyarakat di wilayah lain belum dapat menikmati informasi dengan biaya terjangkau dan bersifat Real Time semisal mengakses internet.
2.Kemampuan SDM yang mampu menggunakan perangkat teknologi informasi masih rendah.
Masalah ini masih saja menjadi kendala kita dalam melakoni berbagai bidang tidak terkecuali kemampuan menggunakan perangkat teknologi informasi. Sejauh ini kita lihat yang menggunakan perangkat teknologi informasi hanya sebatas mahasiswa, pegawai/karyawan perusahaan, siswa-siswi sekolah menengah ataupun kalangan professional. Padahal informasi bukan hanya milik mereka tapi semua elemen masyarakat tanpa memandang siapa atau apa profesinya.
3.Belum adanya sosialisasi yang cukup mengenai teknologi informasi kepada masyarakat.
Terobosan yang dilakukan pemerintah utamanya didunia pendidikan untuk lebih mengenal lebih jauh tentang teknologi informasi sudah baik, dimana para siswa diberikan pengetahuan bagaimana menggunakan dan mengelola perangkat teknologi informasi. Namun apakah pengetahuan tersebut hanya bagi kalangan pendidikan formal? lalu bagaimana masyarakat yang bergelut di pendidikan non formal atau yang lainnya.
Semua hal tersebut menjadi bahan evaluasi bagi kita dalam melihat bagaimana pengembangan sistem informasi kedepan yang dapat menyentuh masyarakat sampai ke level bawah.

Penerapan Teknologi informasi bagi Pendidikan luar sekolah
Penerapan teknologi informasi yang tepat juga menjadi dilema di dunia pendidikan luar sekolah, berbagai konsep mengenai hal tersebut telah beberapa kali dirumuskan namun pada kenyataannya belum mampu untuk diimplementasikan pada masyarakat. Seperti kita ketahui bersama bahwa pendidikan luar sekolah saat ini lebih banyak bergelut pada cluster terkecil atau lapisan bawah di masyarakat. Dimana yang menjadi target pendidikan luar sekolah adalah anak-anak putus sekolah, masyarakat buta aksara serta orang-orang yang belum mempunyai penghasilan memadai disebabkan tidak mempunyai keterampilan yang cukup sedangkan untuk menggunakan teknologi informasi diperlukan sedikit pengetahuan serta biaya yang mungkin bagi mereka tidaklah begitu penting. Selain itu bagi mereka yang bergelut didunia pendidikan luar sekolah seperti tutor, tld, fdi, ataupun stakeholder yang ada didaerah masih belum mempergunakannya karena masih terbentur masalah fasilitas dan kurangnya pengetahuan tentang hal tersebut. Namun apapun persoalannya bukanlah menjadi halangan bagi kita untuk menciptakan dunia pendidikan luar sekolah berbasis TI.
Terkait dengan masalah infrastruktur penunjang teknologi informasi, terdapat beberapa pilihan yang dapat dilakukan, tapi salah satu solusi yang tepat melihat situasi serta kondisi masyarakat yang menjadi sasarannya adalah dengan menggunakan konsep yang ditelurkan oleh tim dari Institut Teknologi Bandung (ITB) yaitu dengan menggunakan teknologi Radio Paket. Dengan menggunakan teknologi ini kita sudah dapat membangun suatu jaringan komputer dengan biaya murah serta mudah. Selain itu teknologi ini dapat digunakan di daerah-daerah yang belum dijangkau oleh koneksi dial-upnya telkom. Tentu saja pembangunan ini perlu mendapat dukungan dari semua pihak termasuk pemerintah daerah.
Perangkat-perangkat informasi seperti Situs, e-learning serta sistem informasi pendidikan luar sekolah juga menjadi poin yang penting untuk dikembangkan sebab dari sanalah semua bahan dan informasi mengenai pendidikan luar sekolah didapatkan.
Walaupun kita telah dapat merealisasikan infrastruktur serta perangkatnya, hal tersebut menjadi tidak berguna apabila tidak ditunjang oleh SDM yang baik. Untuk mewujudkan SDM yang baik terutama dalam menggunakan perangkat teknologi informasi diperlukan pelatihan serta sosialisasi mengenai hal tersebut. Mungkin bagi stakeholder atau pelaksana teknis di bidang pendidikan luar sekolah, pelatihan berbasis teknologi informasi bukanlah barang baru. Sebab BPPLSP Regional V Makassar misalnya telah beberapa kali melaksanakan pelatihan seperti itu, tapi bagaimana bagi tutor atau peserta paket A, B, C misalnya. Pasti belum banyak yang mengenal hal tersebut. Oleh karena itu perlu dipikirkan suatu konsep yang dapat mengintegrasikan pengetahuan mengenai teknologi informasi pada seluruh lapisan masyarakat.
BPPLSP Regional V Makassar sendiri sebagai perpanjangan pemerintah pusat di daerah yang bertanggung jawab dibidang pendidikan luar sekolah telah berusaha mengembangkan perangkat-perangkat penunjang untuk penyebaran informasi pendidikan luar sekolah diantaranya pengembangan website, Pengembangan sistem informasi pendidikan luar sekolah, e-learning pendidikan luar sekolah. Sedangkan untuk ke depan BPPLSP Regional V telah merencanakan membuat suatu komunitas berbasis teknologi informasi di lingkup propinsi hingga pedesaan dalam program Cyber Village.

SISTEM INFORMASI PEMBELIAN DAN PENJUALAN BARANG PADA LAST TRICK CLOTHING PALEMBANG : SUATU PENDEKATAN BERORIENTASI OBJEK

OLEH:
ANDI MARDIANSYAH


Last Trick Clothing Palembang belum menggunakan system komputerisasi dalam melakukan aktivitas pembelian dan penjualan barang. Pembelian dan penjualan masih menggunakan cara manual, yaitu dengan cara mencatat data barang, supplier, pembelian dan penjualan pada buku dengan tulis tangan. Hal ini kurang membantu didalam proses penjualan, proses pelayanan terhadap konsumen menjadi tidak efektif dengan ditambah pencarian barang yang masih dilakukan secara manual. Proses penyajian laporan pembelian dan penjualan barang bulanan pun tidak dapat disajikan dengan tepat waktu dan akurat. Untuk mengatasi masalah tersebut penulis membuat suatu aplikasi system informasi pembelian dan penjualan barang. Dalam metode pengembangan system, penulis menggunakan metode RUP (Rational Unified Process) yang terdiri dari tahapan insepsi, elaborasi, konstruksi, transisi. Setelah mengidentifikasi fungsi utama kasus-kasus yang ada, penulis mendesain perangkat lunak dengn menggunakan UML(Unified Modeling Language) lalu membangun perangkat lunakdengan menggunakan bahasa pemrograman C++ Builder dengan Compiler Borland C ++ Builder Versi 6.0 dan dengan pendekatan pengembangan menggunakan metode berorientasi objek. Penulis sengaja membangun perangkat lunak dengan pendekatan berorientasi objek yang relative jarang digunakan. Maka didapatkan sebuah aplikasi system informasi pembelian dan penjualan barang yang dapat membantu menyelesaikan permasalahan yang ada di Last Trick Clothing. Laporan yang dihasilkan berupa laporan barang, laporan pembelian dan laporan penjualan. Dengan adanya aplikasi ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja kerja pada pegawai Last Trick Clothing Palembang dan dapat membantu proses kegiatan transaksi. Untuk menjalankan aplikasi ini, pegawai harus terlebih dahulu diberikan pelatihan tentang cara pemakaiannya.